Ntvnews.id, Berlin - Kanselir Jerman Friedrich Merz kembali menegaskan bahwa masa depan rezim pemerintahan Iran tinggal menghitung hari.
Pernyataan itu disampaikannya seiring Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman aksi militer terhadap Teheran terkait penindakan keras terhadap para demonstran.
"Rezim yang hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan dan teror terhadap penduduknya sendiri: hari-harinya sudah dihitung," ujar Merz dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Rumania Ilie Bolojan, Rabu, 28 Januari 2026 waktu setempat.
"Mungkin hanya beberapa minggu lagi, tetapi rezim ini tidak memiliki legitimasi untuk memerintah negara," lanjut Merz, seperti dilansir dari Al Arabiya, Jumat, 30 Januari 2026.
Merz menilai besarnya jumlah korban jiwa dalam gelombang unjuk rasa belakangan ini menunjukkan bahwa pemerintahan ulama di Iran hanya mampu bertahan dengan cara-cara represif.
Baca Juga: Terancam Diserang AS, DPR Minta WNI di Iran Segera Dievakuasi
"Jumlah korban tewas yang dilaporkan mencapai ribuan selama demonstrasi baru-baru ini menunjukkan bahwa rezim mullah tampaknya hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui teror semata," katanya.
Salah satu organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebut telah memverifikasi lebih dari 6.200 kematian sejak gelombang aksi protes antipemerintah merebak pada akhir Desember lalu. Para aktivis meyakini jumlah korban sebenarnya bisa lebih besar, mengingat pemadaman internet masih menyulitkan proses verifikasi di lapangan.
Selain itu, Merz menyatakan dukungannya terhadap inisiatif Italia agar Uni Eropa menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. "Saya sangat menyesal bahwa masih ada satu atau dua negara di Uni Eropa yang belum siap untuk mendukung penetapan tersebut," ujarnya.
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Rabu, 28 Januari 2026, kembali memperingatkan Iran bahwa kesempatan untuk menghindari intervensi militer AS semakin menipis. Peringatan itu muncul setelah Teheran menolak membuka jalur perundingan di tengah eskalasi ketegangan.
Seperti dilaporkan AFP, Trump menegaskan dirinya tidak pernah menutup kemungkinan melancarkan serangan baru terhadap Iran, menyusul tindakan keras aparat terhadap gelombang demonstrasi bulan ini. Ketegangan juga diperparah oleh dampak perang 12 hari pada Juni lalu antara Iran dan Israel yang didukung serta diikuti oleh AS.
Baca Juga: Iran Tak Gentar dengan Gertakan Trump
"Semoga Iran segera 'Datang ke Meja Perundingan' dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata -tanpa senjata nuklir- kesepakatan yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!" kata Trump.
Merujuk pada serangan AS terhadap target nuklir Iran selama perang Juni yang disebutnya menyebabkan "kehancuran besar Iran", Trump menambahkan, "Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi".
Arsip Foto - Rabu, 8 Januari 2020 Bendera Iran yang berada di markas besar PBB di New York, AS. ((Antara) )