Prabowo Pertanyakan Nasib Rumah Radio Bung Tomo

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Feb 2026, 15:48
thumbnail-author
Zaki Islami
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 2 Februari 2026. (ANTARA/Fathur Rochman) Presiden Prabowo Subianto menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 2 Februari 2026. (ANTARA/Fathur Rochman) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan keberadaan stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) atau Rumah Radio yang pernah digunakan Bung Tomo saat peristiwa heroik 10 November 1945. Pertanyaan tersebut disampaikan sebagai bentuk keprihatinan terhadap minimnya perhatian terhadap pelestarian situs-situs bersejarah di Indonesia.

Rumah yang berlokasi di Jalan Mawar Nomor 10, Surabaya, dikenal sebagai tempat Bung Tomo menyampaikan pidato legendaris yang membakar semangat perlawanan arek-arek Surabaya. Ironisnya, bangunan tersebut telah dihancurkan meski berstatus sebagai cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998.

Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin 2 Februari 2026.

“Saya ingin bertanya, di mana stasiun RRI yang digunakan Bung Tomo saat pertempuran 10 November? Apakah masih ada? Lalu di mana situs-situs Majapahit? Saya dengar beberapa sudah berubah menjadi pabrik,” ujar Prabowo.

Presiden Prabowo Subianto pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 2 Februari 2026. <b>(Sekertariat Kepresidenan)</b> Presiden Prabowo Subianto pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 2 Februari 2026. (Sekertariat Kepresidenan)

Presiden menegaskan pentingnya menghormati perjuangan para pendahulu bangsa yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, pengalaman pahit bangsa Indonesia selama masa penjajahan harus menjadi pelajaran berharga bagi generasi saat ini.

“Karena sejarah kita, karena kita pernah dijajah, karena kita pernah mengalami pemerintahan kolonial yang imperialis dan rasialis, rakyat pribumi pernah dianggap lebih rendah daripada anjing,” tegas Prabowo.

Baca Juga: Prabowo Gelar Pertemuan dengan Tokoh Ormas Islam, Istana: Update Perkembangan Dalam Negeri dan Luar Negeri

Ia menyadari bahwa generasi muda saat ini tidak merasakan langsung penderitaan di masa penjajahan. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan sejarah dan peninggalan para pahlawan bangsa.

Prabowo juga mengungkap pengalamannya melihat langsung prasasti bersejarah pada 1978, atau lebih dari dua dekade setelah kemerdekaan Indonesia, yang saat itu masih berdiri di kawasan kolam renang Manggarai. Ia menyayangkan kemungkinan prasasti tersebut kini telah dibongkar.

“Saya pernah melihat prasasti tahun 1978. Dua puluh tiga tahun setelah kemerdekaan, prasasti itu masih ada. Sayangnya, sekarang mungkin sudah tidak ada lagi,” ucapnya.

Dalam arahannya, Prabowo menyoroti lemahnya kepedulian terhadap perawatan dan perlindungan situs-situs bersejarah. Ia menilai banyak peninggalan penting justru hilang atau beralih fungsi tanpa mempertimbangkan nilai historisnya.

“Kita kadang tidak menghargai sejarah kita sendiri. Situs-situs sejarah dibongkar. Ini yang harus menjadi perhatian serius para kepala daerah,” katanya.

Prabowo menegaskan bahwa Indonesia dapat berdiri dan berkembang hingga saat ini berkat perjuangan para pahlawan serta kontribusi para pemimpin terdahulu, mulai dari presiden, jajaran kabinet, hingga kepala daerah di masa lalu.

“Semua telah menyumbang dan berkontribusi terhadap kehadiran kita hari ini,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan. Ia mengingatkan bahwa melupakan sejarah berpotensi menyeret bangsa kembali ke kesalahan yang sama.

x|close