Ntvnews.id, Bogota, Kolombia - Sebulan setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat, jalan-jalan utama di ibu kota Caracas pada Selasa, 3 Februari 2026 waktu setempat, menjadi titik temu berbagai kelompok yang menentang maupun mendukung arah politik negara tersebut.
Aksi unjuk rasa berlangsung serentak dengan melibatkan faksi pro-pemerintah dan kelompok oposisi, di tengah masa transisi yang penuh ketidakpastian di bawah kepemimpinan Penjabat Presiden Delcy Rodriguez.
Para pendukung Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV) terlihat berjalan bersama melintasi ibu kota dengan tuntutan agar mantan pemimpin yang kini dipenjara itu dikembalikan ke tampuk kekuasaan.
Demonstrasi pro-pemerintah tersebut diorganisir oleh Sekretaris Jenderal PSUV Diosdado Cabello dan kepala mobilisasi massa Nahum Fernandez. Massa berkumpul untuk menyuarakan penolakan terhadap penahanan Maduro dan menyatakan dukungan terhadap pemerintahan saat ini.
Fernandez menyampaikan bahwa para pendukung akan terus melakukan aksi dengan keyakinan bahwa keadilan akan ditegakkan, sembari menegaskan komitmen untuk tetap turun ke jalan demi memberikan “dukungan mutlak” kepada pemerintah.
Baca Juga: Ribuan Warga Venezuela Desak Pembebasan Nicolas Maduro
Meski menyerukan kembalinya Maduro, para pemimpin aksi menekankan loyalitas mereka kepada Delcy Rodriguez, yang resmi menjabat sebagai presiden pada 5 Januari 2026, dengan tujuan menjaga stabilitas negara “dalam skenario apa pun.”
Di sisi lain, kelompok berbeda dalam rangkaian aksi tersebut menyerukan pemulihan menyeluruh bagi para korban kekerasan yang diduga didukung negara. Mereka menuntut keadilan melalui pertanggungjawaban pejabat tinggi yang terlibat dalam pelanggaran di masa lalu serta jaminan agar pelanggaran hak asasi manusia tidak terulang.
Sejak mengambil alih kekuasaan, Rodriguez telah memperkenalkan Undang-Undang Amnesti Umum yang bertujuan membebaskan ratusan tahanan politik yang ditahan sejak 1999, serta memerintahkan penutupan segera penjara El Helicoide.
Fasilitas tersebut telah lama dikecam pengamat internasional sebagai pusat penahanan yang terkenal kejam dan diduga menjadi lokasi penyiksaan. Pemerintah berencana mengalihfungsikan bangunan itu menjadi pusat olahraga, budaya, dan sosial bagi masyarakat sekitar Caracas.
Sementara itu, Nicolas Maduro masih ditahan di penjara federal Amerika Serikat seiring berjalannya proses hukum di New York. Pemimpin yang digulingkan tersebut menghadapi empat dakwaan utama, yakni konspirasi terorisme narkotika, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan alat penghancur, serta konspirasi kepemilikan senjata ilegal.
Baca Juga: Eks Diplomat Korut Nilai Kim Jong Un Nasibnya Bisa Seperti Maduro yang Digulingkan AS
(Sumber: Antara)
Sejumlah pekerja mengikuti pawai menuntut agar pemerintah AS membebaskan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya di Caracas, Venezuela, Rabu, 14 Januari 2026. ANTARA/Xinhua/Lucio Tavora/aa. (Antara)