Tangis Haru Mahasiswi Berprestasi di Surabaya Terpaksa Mencuri Karena Tak Punya Uang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Feb 2026, 08:57
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Mahasiswi Berprestasi di Surabaya Terpaksa Mencuri Mahasiswi Berprestasi di Surabaya Terpaksa Mencuri (Instagram)

Ntvnews.id, Jakarta - Tangis seorang mahasiswi pecah di hadapan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan. Ia mengakui kesalahannya sambil berulang kali menundukkan kepala, mengaku bingung hingga akhirnya mengambil keputusan mencuri demi bertahan hidup. Air matanya terus mengalir ketika ia mengaku benar-benar tidak memiliki uang.

Momen memilukan itu terekam dalam unggahan akun Instagram resmi milik Kapolrestabes Surabaya, @luthfie.daily. Dalam rekaman tersebut tampak pertemuan antara sang mahasiswi, ibunya, dan korban pencurian ponsel.

Situasi berlangsung penuh emosi, sang mahasiswi tidak berhenti menangis sementara ibunya yang mendampingi juga ikut meneteskan air mata. Luthfie mencoba memahami kondisi sang mahasiswi. Ia bertanya dengan nada menenangkan,

“Terpaksa apa gimana kok sampai (mencuri)?” Sang mahasiswi, masih terbata-bata di tengah isak, menjawab lirih, “Nggak ada uang.”

Baca Juga: MU Dipastikan Masih Tanpa Tiga Pemain Kontra West Ham United

Saat memediasi, Luthfie kemudian menanyakan kepada korban mengenai langkah yang ingin diambil. Korban yang ditemui langsung dalam pertemuan itu menunjukkan sikap memaafkan.

Ketika ditanya, “Mbak mau penginnya bagaimana?” sang korban menjawab tenang, “Iya (diselesaikan secara) kekeluargaan, Pak.”

Mendengar hal itu, air mata mahasiswi semakin deras mengalir. Dengan suara pecah ia menghadap korban dan berkata, “Maaf, ya, Mbak.” Ibunya yang berada di sampingnya ikut menangis, tidak mampu menahan pilu melihat anaknya dalam kondisi tersebut.

Di hadapan Luthfie, mahasiswi itu mengungkapkan bahwa selama ini ia bertahan hidup dengan hanya Rp 200 ribu untuk satu bulan. Luthfie sempat terkejut dan bertanya bagaimana ia bisa hidup dengan jumlah sekecil itu.

“Rp 200 ribu per bulan cukup emang, gimana caranya? Masak gak?” tanyanya. Sang mahasiswi menjawab, “Masak nasi.” Ketika ditanya soal lauk, ia mengatakan, “Telur dadar sama mi.”

Ibu mahasiswi diketahui merupakan ibu rumah tangga, sementara sang ayah bekerja sebagai buruh tani. Meski hidup dalam keterbatasan, prestasi akademiknya tergolong tinggi.

Baca Juga: Hari Ini DPR Gelar Rapat Paripurna, Sahkan Pengawas BPJS Kesehatan

Bahkan ketika Luthfie menanyakan indeks prestasinya, ia menjawab, “IPK 3.85. Nggak tahu kok tiba-tiba kepikiran nyuri.” Mendengar itu, Luthfie hanya dapat menanggapi dengan kagum, “Nilai IPK 3.85 itu luar biasa.”

Kisah hidup sang mahasiswi membuat Luthfie tersentuh. Ia kemudian memberikan bantuan berupa uang untuk meringankan biaya kos dan kebutuhan lainnya. Luthfie juga bertanya tujuan mahasiswi itu menjual barang hasil curian, “Dijual ya? (Barangnya) terus untuk apa? Bayar kosan?”

Di akhir pertemuan, Luthfie memberikan nasihat penuh harapan. Ia meminta mahasiswi itu berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut dan berkomitmen untuk membantu biaya kos.

“Berjanji tidak lagi mengulangi hal itu. Nanti saya bantu biaya kosan dan lain-lain ya.” Sang mahasiswi menjawab lirih sambil menyeka air matanya, “Makasih, Pak.”

Sebelum pertemuan berakhir, Luthfie juga memberi pesan agar ia tetap rajin belajar demi masa depan yang lebih baik. “Bantu orang tua sama adiknya, ya,” ucapnya.

Di ruangan itu, air mata menjadi bahasa paling jujur. Isak mahasiswi, tangis ibunya, dan empati yang hadir membuat pertemuan tersebut bukan sekadar mediasi hukum, tetapi juga potret kerasnya perjuangan seorang anak dalam mempertahankan mimpinya.

x|close