Ntvnews.id, Jakarta - Kasus penganiayaan yang menewaskan seorang warga di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Peristiwa tragis itu diduga dipicu persoalan sepele, yakni pengambilan dua buah labu siam dari kebun yang digarap terduga pelaku.
Korban berinisial M (56) diduga dianiaya oleh pria berinisial UA (40) setelah mengambil dua buah labu siam di kebun tersebut. Insiden itu berujung fatal setelah kondisi korban terus memburuk beberapa hari pasca kejadian.
Korban akhirnya meninggal dunia pada Senin 2 Maret 2026, setelah sebelumnya sempat mengeluhkan sakit dan pusing. Bahkan, sehari setelah peristiwa penganiayaan, korban dilaporkan mengalami muntah darah.
View this post on Instagram
Adik korban, Cucum Suhenda (50), mengungkapkan bahwa kakaknya nekat mengambil labu siam karena desakan kebutuhan hidup. Buah tersebut rencananya akan dimasak untuk kebutuhan berbuka puasa.
“Korban memang kondisi ekonominya tidak mampu. Sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan, kalau ada yang menyuruh baru kerja,” ujarnya.
Baca Juga: Jalani Ramadhan Tanpa Ridwan Kamil, Atalia Praratya Ngaku Lebih Tenang
Cucum mengaku sempat berupaya melerai saat penganiayaan terjadi, namun tidak mampu menghentikan aksi pelaku yang disebutnya bertindak membabi buta.
“Saya sempat melerai, tapi tidak bisa berbuat banyak karena pelaku membabi buta. Saya juga takut diintimidasi,” katanya.
Menurutnya, keluarga tidak memiliki biaya untuk membawa korban berobat secara layak. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun mereka kesulitan.
“Kita tidak sanggup membawa korban untuk berobat. Untuk kebutuhan sehari-hari pun cukup sulit. Memang ini sudah suratan takdir, tapi kita ingin keadilan,” ungkapnya.
Ia berharap proses hukum dapat berjalan adil mengingat kasus tersebut telah menyebabkan korban meninggal dunia. Keluarga pun mengaku kebingungan untuk menanggung biaya pemakaman.
“Saya ingin ada keadilan bagi korban, karena ini sudah sampai meninggal dunia. Bahkan keluarga juga bingung, untuk biaya pemakaman saja tidak ada,” tambahnya.
Diketahui, korban meninggalkan dua orang anak yang telah dewasa. Namun secara keseluruhan, kondisi ekonomi keluarga tergolong lemah. Kasus ini kini menjadi perhatian warga setempat dan menunggu proses hukum lebih lanjut terhadap terduga pelaku.
Ilustrasi Penganiayaan (ANTARA)