Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari menepis isu yang menyebut seorang siswa bernama Fatih dari MIN 2 Ketahun, Bengkulu Utara, meninggal dunia akibat mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa burger. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Badan Gizi Nasional, peristiwa tersebut dipastikan tidak berhubungan dengan program MBG.
Qodari menjelaskan, temuan di lapangan menunjukkan bahwa siswa tersebut sudah lebih dulu pingsan sebelum menyantap menu MBG yang dibagikan pada hari kejadian. Pemeriksaan medis melalui CT Scan di RS Bhayangkara memperlihatkan adanya pendarahan otak, bukan indikasi keracunan makanan.
"Uji laboratorium BPOM terhadap sampel makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi [SPPG] Giri Kencana menunjukkan hasil negatif terhadap bakteri E. coli maupun cemaran berbahaya lainnya," ujar Qodari di Kantor KSP, Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Ia juga menyampaikan empati atas wafatnya siswa tersebut.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya siswa MIN 2 Ketahun, Bengkulu Utara. Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama pemerintah. Setiap kejadian yang diduga terkait program MBG tidak pernah dianggap remeh dan pemerintah langsung menindaklanjutinya." jelasnya.
Hingga 2 Maret 2026, program MBG tercatat telah menjangkau 61,2 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Pelaksanaannya ditopang oleh 24.443 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 38 provinsi, dengan 8.700 unit di antaranya telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Selain itu, terdapat 94.056 pemasok yang terlibat termasuk 38.938 pelaku UMKM serta dukungan 1.003.824 relawan MBG di berbagai daerah.
Kepala Staf Kepresidenan M. Qodari (NTVnews)