Rusia Tegaskan Patuh Batasan Senjata Nuklir Jika AS...

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Feb 2026, 12:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Senjata Nuklir Senjata Nuklir (aspistrategist)

Ntvnews.id, Moskow - Pemerintah Rusia menegaskan komitmennya untuk tetap mematuhi pembatasan senjata nuklir yang tercantum dalam perjanjian pengendalian senjata yang telah berakhir dengan Amerika Serikat, dengan syarat Washington juga bersikap serupa.

Traktat New START perjanjian terakhir antara dua negara pemilik senjata nuklir terbesar di dunia resmi berakhir pada awal bulan ini. Amerika Serikat tidak merespons tawaran Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperpanjang perjanjian tersebut selama satu tahun guna mempertahankan pembatasan jumlah senjata nuklir.

Dilansir dari Sputnik, Kamis, 12 Februari 2026, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan bahwa Moskow tidak tergesa-gesa untuk mengembangkan atau mengerahkan lebih banyak persenjataan. Ia juga menarik kembali pernyataan kementeriannya pekan lalu yang menyebut Rusia tidak lagi terikat oleh ketentuan perjanjian itu.

"Kami berangkat dari fakta bahwa moratorium ini, yang diumumkan oleh presiden kami, tetap berlaku, tetapi hanya selama Amerika Serikat tidak melampaui batasan yang telah ditetapkan," kata Lavrov dalam pidatonya di parlemen Rusia.

Baca Juga: Menlu: Iran Berupaya Pastikan Penggunaan Nuklir Secara Damai

Kedua negara sebelumnya telah memberi sinyal ingin merundingkan kesepakatan pengendalian senjata baru. Amerika Serikat mendorong agar China dilibatkan dalam pembicaraan tersebut, dengan alasan perkembangan persenjataan nuklir Beijing.

Di sisi lain, Moskow menyatakan bahwa jika China ikut dalam kesepakatan baru, maka sekutu nuklir Amerika Serikat, yakni Inggris dan Prancis, juga harus turut dilibatkan.

Arsip - Bendera nasional Rusia terlihat di Kremlin, Moskow, Rusia, 6 Januari 2023. <b>(ANTARA)</b> Arsip - Bendera nasional Rusia terlihat di Kremlin, Moskow, Rusia, 6 Januari 2023. (ANTARA)

Berakhirnya Traktat New START, yang membatasi Amerika Serikat dan Rusia masing-masing memiliki maksimal 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan, menjadi momen pertama dalam beberapa dekade tanpa adanya perjanjian pembatasan senjata strategis. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya perlombaan senjata baru.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menilai New START sebagai perjanjian yang “dinegosiasikan dengan buruk” dan “sedang dilanggar secara terang-terangan”.

Baca Juga: Media AS Sebut Lokasi Pembicaraan Nuklir AS–Iran Beralih dari Turki ke Oman

Pada 2023, Rusia sempat menolak inspeksi fasilitas nuklirnya sesuai perjanjian tersebut di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat terkait konflik di Ukraina.

Meski demikian, Rusia menegaskan tetap berkomitmen pada batasan kuantitatif yang telah disepakati dalam perjanjian sebelumnya.

x|close