Rio Christiawan: Kerusakan Lingkungan Bisa Hapus Nilai Ekonomi Ratusan Triliun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Feb 2026, 16:22
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Co-Founder and CEO at Pagatan Usaha Makmur Co-Founder and CEO at Pagatan Usaha Makmur (NTV)

Ntvnews.id, Jakarta - Dalam sesi diskusi di acara Nature 2026 yang digelar di Nusantara Ballroom NT Tower pada Kamis (12/2/2026), Rio Christiawan Co-Founder and CEO at Pagatan Usaha Makmur menyampaikan peringatan keras mengenai besarnya kerugian yang akan ditanggung Indonesia bila kerusakan lingkungan terus berlanjut dan upaya reforestasi tidak dilakukan secara serius.

Rio mengungkap bahwa kerugian ekologis sekaligus ekonomi dapat mencapai angka yang sangat besar. Ia menuturkan bahwa potensi nilai hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity) Indonesia saja sudah berada pada rentang puluhan hingga ratusan triliun rupiah.

“Kerugiannya sangat besar, karena begini, kemarin saya hadir dalam satu FGD dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kerugian untuk biodiversity, Indonesia aset biodiversity-nya saja sekitar puluhan sampai ratusan tek, triliun,” ujarnya.

Rio menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan degradasi lingkungan memberikan dampak berlapis, mulai dari hilangnya kemampuan hutan menyerap karbon hingga menurunnya peluang Indonesia dalam perdagangan ekonomi karbon.

Selain sektor karbon, nilai ekonomi dari keanekaragaman hayati juga terancam. Rio menyoroti tren global baru berupa biodiversity credit, yang sangat bergantung pada keberlanjutan ekosistem sebagai ‘rumah’ bagi flora dan fauna.

Baca Juga: Kepala BRIN Prof Arif Satria di NATURE 2026: Riset Jadi Kunci Jaga Biodiversitas dan Kedaulatan Indonesia

“Ketika tempat livelihood-nya biodiversity-nya hilang, nilai biodiversity-nya hilang. Nilai ekonominya yang tadi puluhan sampai ratusan tek menjadi hilang. Jadi kan sekarang setelah karbon kredit itu ada tren biodiversity kredit,” tambahnya.

Kerusakan lingkungan juga tampak di wilayah laut. Rio mencontohkan keberadaan pesut di kawasan Kalimantan Timur, yang kini berpopulasi sangat sedikit akibat paparan limbah.

“Misalnya pesut kita itu sekarang jumlahnya tinggal 50 sampai 60, populasinya terhambat karena banyaknya terpapar solar dan plastik. Sehingga dia banyak terancam punah, masuk endanger species,” ungkap dia.

Ia menegaskan bahwa jika kondisi ini tidak ditangani, Indonesia berpotensi kehilangan nilai ekonomi yang sangat besar, kembali mencapai kategori ratusan triliun.

Baca Juga: NATURE 2026: Menjaga Alam, Menggerakan Ekonomi: Arah Baru Pembangunan Berkelanjutan Indonesia

Rio bahkan menyinggung backdrop acara Nature 2026 yang menampilkan hutan, satwa liar, dan kincir angin. Menurutnya, visual tersebut merepresentasikan tiga dimensi besar ekonomi hijau: biodiversity, reforestasi, dan transisi energi bersih.

“Gambar rusak, itu menggambarkan potensi ekonomi dari biodiversity kredit. Gambar hutannya itu menggambarkan potensi ekonomi dari ekonomi hijau, reforestasi. Gambar kincir anginnya itu menggambarkan orang beralih, supaya secara ekonomis clean and affordable,” tambah dia.

Ia menyebut konsep visual tersebut “sangat filosofis” dan selaras dengan gagasan besar peralihan menuju energi bersih demi menekan emisi karbon.

Rio menutup pemaparannya dengan menekankan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya mengurangi peluang ekonomi karbon dan biodiversity credit, tetapi juga menjadi beban fiskal bagi negara.

x|close