Israel Usir 15 Keluarga Palestina di Tepi Barat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Feb 2026, 11:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Pemukim Ilegal Israel sita Domba Warga Palestina di Tepi Barat Pemukim Ilegal Israel sita Domba Warga Palestina di Tepi Barat (Antara)

Ntvnews.id, Tepi Barat - Pemukim Israel dilaporkan mengusir sedikitnya 15 keluarga Palestina dari wilayah Tepi Barat, dengan memaksa mereka merobohkan rumah dan meninggalkan area tersebut.

Dilansir dari Al Jazeera, Rabu, 18 Februari 2026, Kepala Dewan Desa al-Malih, Mahdi Draghmeh, mengatakan kepada kantor berita Wafa bahwa pada Selasa, 17 Februari 2026 keluarga Palestina yang diusir secara paksa mulai membongkar rumah mereka di tengah meningkatnya serangan oleh para pemukim Israel.

Menurut Wafa, tujuh keluarga lain dari komunitas Maita di wilayah terdekat juga telah meninggalkan tempat tinggal mereka beberapa hari sebelumnya setelah menghadapi serangan dan ancaman serupa dari pemukim.

Dalam insiden terpisah, para pemukim Israel juga dilaporkan menyerang seorang pria dari desa Nabi Samwil di barat laut Yerusalem Timur, yang menyebabkan korban mengalami luka memar dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Baca Juga: Liga Arab Kutuk Israel ubah Lahan Tepi Barat Jadi 'tanah negara'

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya operasi pasukan Israel di berbagai wilayah Tepi Barat yang diduduki, termasuk penggerebekan dan penghancuran di Nablus, Al Khader, dan Salfit.

Pemerintah Israel diketahui telah mendorong sejumlah kebijakan untuk memperkuat kontrol atas wilayah pendudukan, termasuk mempermudah pemukim membeli tanah Palestina serta membuka proses pendaftaran tanah Palestina sebagai milik negara Israel.

Pada pekan ini, pemerintah Israel juga menyetujui rencana untuk menetapkan sebagian besar wilayah Tepi Barat sebagai “milik negara”, yang mengalihkan beban pembuktian kepemilikan tanah kepada warga Palestina.

Anggota pasukan Israel terlihat selama operasi militer di Ramallah, Tepi Barat tengah, 16 September 2025. (ANTARA/Ayman Nobani/Xinhua.) <b>(Antara)</b> Anggota pasukan Israel terlihat selama operasi militer di Ramallah, Tepi Barat tengah, 16 September 2025. (ANTARA/Ayman Nobani/Xinhua.) (Antara)

Warga Palestina memperingatkan bahwa kebijakan tersebut dapat membuka jalan bagi aneksasi resmi wilayah tersebut, yang dikhawatirkan akan mengakhiri peluang pembentukan negara Palestina sebagaimana diamanatkan dalam berbagai resolusi PBB.

Dalam pernyataan bersama, para menteri luar negeri Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir menyebut langkah Israel bertujuan menciptakan realitas hukum dan administratif baru untuk mengonsolidasikan kendali atas wilayah yang diduduki.

Baca Juga: Trump Tegaskan Tolak Aneksasi Tepi Barat oleh Israel

Keputusan Israel dinilai sebagai eskalasi serius untuk mempercepat pemukiman ilegal, perampasan tanah, serta penerapan kedaulatan yang melanggar hukum internasional di Wilayah Palestina yang diduduki, sekaligus merusak hak-hak sah rakyat Palestina.

Israel juga disebut telah mengintensifkan operasi militernya di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sejak melancarkan perang di Gaza pada Oktober 2023. Operasi tersebut mencakup pembunuhan, penangkapan, pengusiran, serta perluasan permukiman, yang menurut pejabat Palestina bertujuan menciptakan realitas baru di lapangan.

Data resmi Palestina mencatat sedikitnya 1.114 warga Palestina tewas, sekitar 11.500 luka-luka, dan sekitar 22.000 orang ditangkap di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur.

x|close