Penyumbang Pembelian Pesawat Pertama RI Teungku Nyak Sandang Meninggal Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Apr 2026, 20:45
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Teungku Nyak Sandang Teungku Nyak Sandang (Instagram)

Ntvnews.id, Jakarta - Kabar duka menyelimuti sejarah perjuangan Indonesia setelah wafatnya Teungku Nyak Sandang bin Lamudin. Sosok yang dikenal berjasa dalam pengadaan pesawat pertama Indonesia, Seulawah RI-001, itu meninggal dunia pada Selasa siang, 7 April 2026 dalam usia 100 tahun. Informasi kepergian almarhum disampaikan oleh cucunya, Athaillah.

Dalam beberapa tahun terakhir, Nyak Sandang diketahui sempat beberapa kali menjalani perawatan kesehatan. Namun, seiring bertambahnya usia, ia lebih banyak beraktivitas di rumah. Keluarga menyampaikan bahwa jenazah akan dimakamkan di kampung halamannya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.

Semasa hidupnya, Nyak Sandang dikenang sebagai salah satu figur penting dalam sejarah awal penerbangan nasional. Pada 1950, ia menyumbangkan sebidang sawah senilai Rp100, yang saat itu menjadi kontribusi vital dalam pembelian pesawat Seulawah RI-001. Pesawat tersebut kemudian menjadi fondasi lahirnya maskapai nasional Garuda Indonesia

.

Atas jasa besarnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan penghargaan Bintang Jasa Utama pada 25 Agustus 2025 di Istana Negara, Jakarta. Dalam suasana penuh haru, Nyak Sandang hadir menggunakan kursi roda didampingi keluarga, sementara Presiden Prabowo tampak berlutut saat menyematkan tanda kehormatan tersebut.

Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan serta upaya membangun kemandirian sektor transportasi udara Indonesia.

Penghormatan lain terhadap Nyak Sandang diwujudkan melalui pembangunan Masjid Nyak Sandang di Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Masjid tersebut mengusung desain modern dengan konsep Islam, Iman, dan Ihsan, serta berdiri di atas lahan seluas 4.900 meter persegi. Kompleksnya meliputi bangunan utama, balai pengajian, serta menara, dengan kapasitas hingga 940 jamaah.

Pembangunan masjid itu berawal dari tiga permintaan Nyak Sandang ketika bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo di Istana pada Maret 2018. Selain dikenal sebagai dermawan, ia juga tercatat sebagai pejuang yang pernah bertugas sebagai pasukan pengintai pada masa penjajahan.

Dalam perannya sebagai kepala kelompok, Nyak Sandang bertanggung jawab mengamati pergerakan musuh dan melaporkannya kepada pasukan lain, termasuk saat mendeteksi keberadaan kapal Belanda di kawasan Puncak Gureutee, Aceh Jaya.

 

 

x|close