Ntvnews.id
Menurut AHY, kapasitas tampungan air per kapita Indonesia saat ini masih jauh dari kebutuhan tersebut. Mengacu pada laporan World Bank tahun 2021, kapasitas penampungan air Indonesia tercatat sekitar 71 meter kubik per kapita.
“Kebutuhan tampungan kita sebetulnya yang ideal itu kurang lebih 100 hingga 150 meter kubik per kapita. Jadi kalau dari 70 meter kubik per kapita, dibutuhkan satu setengah sampai dengan dua kali lipatnya,” ujar AHY dalam Water Townhall Meeting di Jakarta pada Selasa, 24 Februari 2026.
Ia menambahkan, angka tersebut masih tertinggal dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara.
Baca Juga: Diskusi dengan Komunitas Pemuda Ekraf, Menko AHY Pastikan Infrastruktur Dukung Industri Kreatif
Vietnam memiliki kapasitas sekitar 310 meter kubik per kapita, Malaysia mencapai 710 meter kubik per kapita, sementara Thailand mencatatkan 1.006 meter kubik per kapita.
Secara total, kapasitas tampungan air nasional saat ini diperkirakan berada di kisaran 10 hingga 20 miliar meter kubik. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan nasional secara optimal, Indonesia dinilai memerlukan kapasitas antara 30 hingga 40 miliar meter kubik.
AHY menekankan bahwa peningkatan kapasitas penampungan air menjadi langkah penting untuk mengurangi ketimpangan antara ketersediaan dan kebutuhan air.
Selain itu, upaya tersebut juga dibutuhkan untuk memperkuat ketahanan terhadap ancaman kekeringan maupun banjir di berbagai daerah.
Dalam forum yang sama, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Isu Air Retno Marsudi menegaskan bahwa tantangan pengelolaan air tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral yang sempit.
“Think and act outside the water box. Air itu tidak pernah berdiri sendiri, melainkan konektor dan enabler bagi banyak sektor,” kata Retno.
Ia menjelaskan bahwa air memiliki keterkaitan erat dengan berbagai sektor, mulai dari pertanian, kesehatan, energi, hingga industri.
Sektor pertanian, misalnya, menyerap sekitar 72 persen air tawar global. Sementara dari sisi kesehatan, sekitar 1.000 anak di bawah lima tahun meninggal setiap hari akibat air tercemar dan sanitasi yang tidak memadai.
Retno menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menjawab tantangan krisis air yang semakin kompleks di tingkat global maupun nasional.
(Sumber: Antara)
(Kiri-kanan) Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno Marsudi dalam Water Townhall Meeting di Jakarta, Selasa 24 Februari 2026. ANTARA/Bayu Saputra. (Antara)