AHY Minta Pengembangan Data Center Perhitungkan Ketahanan Air Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Feb 2026, 11:38
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
(Kiri-kanan) Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno Marsudi dalam Water Townhall Meeting di Jakarta, Selasa, 24 Februari 2026. ANTARA/Bayu Saputra. (Kiri-kanan) Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno Marsudi dalam Water Townhall Meeting di Jakarta, Selasa, 24 Februari 2026. ANTARA/Bayu Saputra. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan pengembangan pusat data atau data center harus dibarengi strategi menjaga ketersediaan air nasional. Ia mengingatkan ekspansi industri digital berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasokan air, mengingat air menjadi komponen vital dalam sistem pendingin fasilitas tersebut.

"Sedangkan kita ingin membangun data center ini di seluruh Indonesia, bahkan Indonesia menjadi hub dari data center di kawasan Asia Tenggara. Kita butuh air termasuk juga untuk industrial boilers. Jadi ini juga harus dihitung dengan cermat," kata AHY dalam Water Town Hall Meeting di Jakarta, Selasa, 24 Februari 2026.

Menurut AHY, ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat data di Asia Tenggara perlu diimbangi perencanaan matang agar kebutuhan industri tidak berbenturan dengan kepentingan publik atas akses air bersih.

Dalam forum yang sama, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Isu Air, Retno Marsudi, menekankan bahwa pengelolaan air tidak lagi bisa dilakukan secara sektoral.

Ia menyebut keterlibatan lintas sektor, mulai dari pertanian, kesehatan, energi hingga industri digital, menjadi kunci karena industri data center tergolong sangat intensif dalam penggunaan air.

Baca Juga: AHY Sebut Indonesia Butuh Tambahan Tampungan Air Hingga 2 Kali Lipat

Retno memaparkan, setiap 1 megawatt (MW) beban teknologi informasi (IT load) pada sistem pendingin berbasis evaporative cooling atau cooling tower dapat memerlukan sekitar 1,5 hingga 3 juta liter air per bulan.

Di sisi lain, ia mengakui ekonomi masa depan Indonesia akan sangat ditopang oleh transformasi digital dan pengembangan pusat data, sehingga tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut selaras dengan keberlanjutan sumber daya air.

"Bicara tantangan yang lebih besar lagi, Ibu Bapak bisa membayangkan bahwa saat ini masih ada 2,2 miliar orang yang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman. 3,5 miliar orang yang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang aman. Jadi dari sisi jumlah, it's very big, dan ini harus ditangani," ujar dia.

Ia menilai besarnya angka tersebut menunjukkan krisis air merupakan persoalan global yang tidak dapat diselesaikan secara parsial.

"Maka mau tidak mau, kita harus meninggalkan pendekatan yang sifatnya silo, pendekatan yang sifatnya berdiri sendiri. Karena air mengajarkan satu hal yang penting bagi kita, yaitu kita tidak akan dapat menyelesaikan krisis air sendirian," katanya menambahkan.

Baca Juga: Diskusi dengan Komunitas Pemuda Ekraf, Menko AHY Pastikan Infrastruktur Dukung Industri Kreatif

Retno juga menyoroti pentingnya investasi di sektor air guna mendukung pembangunan berkelanjutan.

Kebutuhan pendanaan global untuk sektor air dan sanitasi diperkirakan mencapai sekitar 600 miliar dolar AS per tahun, sementara kesenjangan pendanaan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tujuan keenam masih berada di kisaran 131 hingga 140 miliar dolar AS per tahun.

Mengutip kajian Bank Dunia, ia menyampaikan setiap 1 dolar AS investasi di sektor air berpotensi menghasilkan pengembalian ekonomi sekitar 6,8 dolar AS melalui peningkatan produktivitas, pengurangan biaya kesehatan, dan stabilitas sosial.

Ia juga merujuk analisis World Resources Institute (WRI) yang memperkirakan penyediaan akses air bagi seluruh populasi dunia membutuhkan alokasi sekitar 1 persen dari Produk Domestik Bruto global, atau setara sekitar 0,29 dolar AS per orang per hari.

Secara global, sektor pertanian menyerap sekitar 72 persen penggunaan air tawar. Karena itu, menurut Retno, pembiayaan dan pengelolaan air memiliki implikasi langsung terhadap ketahanan pangan, energi, kesehatan, hingga industri.

"Air adalah enabler bagi banyak sektor. Karena itu, pendekatan pembiayaan sektor air juga harus lintas sektor dan kolaboratif," ujar dia.

(Sumber: Antara) 

x|close