Perang Iran–Israel dan Urgensi Swasembada Nasional: Ketahanan Dalam Negeri Bukan Lagi Pilihan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Mar 2026, 13:46
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Isrel serang Iran  Isrel serang Iran (The Guardian)

Ntvnews.id, Jakarta - Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai eskalasi perang antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat sebagai peringatan keras bagi seluruh negara, termasuk Indonesia.

Menurutnya, konflik yang meletus di Timur Tengah saat ini bukan sekadar perang regional, melainkan berpotensi mengguncang tatanan ekonomi global.


“Dunia kembali berguncang. Belum selesai perang Rusia–Ukraina dan ketegangan Israel–Palestina, kini diperparah dengan perang terbuka Iran melawan Amerika Serikat dan Israel,” ujar Agung dalam keterangannya.


Ia menggambarkan bagaimana eskalasi terjadi begitu cepat. Serangan yang menghantam Teheran langsung dibalas dengan hujan rudal ke Tel Aviv.

Iran juga meluncurkan serangan besar-besaran ke sejumlah pangkalan militer di kawasan Arab. “Ketegangan yang lama terpendam berubah menjadi perang terbuka. Ini bukan lagi perang bayangan,” tegasnya.

Baca JugaTrump Perkirakan Operasi Militer AS Terhadap Iran Bisa Berlangsung Selama 4 Pekan


Situasi kian mengkhawatirkan ketika Iran menyatakan menutup Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.

Agung menyebut langkah tersebut sebagai titik krusial yang dampaknya bisa menjalar luas.


“Bayangkan jika nadi energi global itu tersumbat. Harga minyak melonjak, biaya logistik naik, distribusi barang tersendat.

Industri terpukul dan negara-negara importir energi akan merasakan efek domino. Krisis bisa menjalar cepat,” katanya.


Menurut Agung, perang ini telah melampaui persoalan dua atau tiga negara.

“Ini soal ekosistem ekonomi global. Rantai pasok dunia yang rapuh sejak pandemi belum benar-benar pulih. Kini ancaman baru datang dari konflik bersenjata,” ujarnya.


Ia juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya mengingatkan potensi eskalasi besar.

“Dulu mungkin terdengar berlebihan ketika disebut bisa memicu perang dunia ketiga. Tapi hari ini kita melihat sendiri, eskalasi bisa terjadi hanya dalam hitungan jam,” kata Agung.


Bagi Indonesia, lanjutnya, kondisi ini harus dibaca sebagai alarm strategis.

“Perang ini adalah alarm keras. Ketahanan dalam negeri bukan lagi slogan. Ia menjadi kebutuhan mendesak. Ketika dunia tidak stabil, negara harus berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya.


Agung menilai program kemandirian nasional yang tengah didorong pemerintah menjadi sangat relevan dalam situasi global yang penuh ketidakpastian.

Swasembada pangan, energi, dan penguatan industri dalam negeri dinilainya bukan sekadar agenda politik, melainkan strategi bertahan.


Dalam sektor pangan, ia menyoroti capaian cadangan beras nasional pada 2025 yang disebut menembus 4 juta ton dan tidak lagi bergantung pada impor.

“Ini bukan angka kecil. Ini simbol kedaulatan. Ketika jalur logistik global terganggu, rakyat tetap harus makan. Kemandirian pangan menjadi benteng pertama,” jelasnya.


Program Makan Bergizi Gratis, menurut Agung, juga memiliki dimensi strategis. Selain menjamin kebutuhan dasar masyarakat, program tersebut menciptakan lapangan kerja dan menjaga daya beli sehingga ekonomi domestik tetap bergerak.


Namun ia mengingatkan bahwa pangan saja tidak cukup.

Energi menjadi urat nadi kedua yang tak kalah penting. Penutupan Selat Hormuz menjadi pelajaran mahal tentang risiko ketergantungan impor energi.

Ia mendorong penguatan kapasitas produksi dan peningkatan lifting minyak guna menekan impor.


“Kemandirian industri juga menjadi kunci. Ketika bahan baku sulit masuk dan harga melonjak, industri dalam negeri harus mampu bertahan. Produksi lokal harus diperkuat dan hilirisasi harus konsisten,” katanya.

Baca Juga: Korea Utara Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran, Sebut AS Bertindak Seperti “Gangster”


Meski demikian, Agung memberi catatan penting soal tata kelola.

“Semua program ini tidak boleh rapuh dari dalam. Pengawasan berjenjang mutlak diperlukan. Tanpa tata kelola yang baik, swasembada hanya menjadi angka di atas kertas. Korupsi bisa menggerogoti fondasi,” ujarnya.


Ia menegaskan bahwa perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menunjukkan satu realitas sederhana: dunia tidak pernah benar-benar aman. Stabilitas global bisa runtuh sewaktu-waktu.


“Karena itu, ketahanan nasional bukan pilihan. Ia keharusan. Indonesia harus menyiapkan diri menghadapi guncangan apa pun—pangan yang cukup, energi yang mandiri, dan industri yang kuat,” tutup Agung.


Menurutnya, di tengah dunia yang berisik oleh dentuman rudal, kekuatan sejati sebuah bangsa justru diuji dalam senyap—di gudang-gudang beras yang penuh, kilang-kilang yang beroperasi, dan kebijakan yang bersih serta terawasi.

x|close