Perusahaan Minyak Peringatkan AS: Penutupan Selat Hormuz Bisa Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Mar 2026, 06:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Api keluar dari kapal kargo setelah diserang di Selat Hormuz pada 11 Maret 2026. (ANTARA/Xinhua/Handout Royal Thai Navy) Api keluar dari kapal kargo setelah diserang di Selat Hormuz pada 11 Maret 2026. (ANTARA/Xinhua/Handout Royal Thai Navy) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Para petinggi perusahaan minyak besar Amerika Serikat memperingatkan Gedung Putih bahwa penutupan Selat Hormuz yang mengganggu jalur pengiriman energi berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global.

Laporan The Wall Street Journal yang dikutip, Selasa, 187 Maret 2026, menyebutkan bahwa CEO ExxonMobil Darren Woods, CEO Chevron Mike Wirth, serta CEO ConocoPhillips Ryan Lance menyampaikan kekhawatiran tersebut kepada pemerintah Amerika Serikat.

Ketiga pimpinan perusahaan energi itu menilai gangguan pada jalur pelayaran di Selat Hormuz akan terus memicu ketidakstabilan di pasar energi global.

Pemerintah Amerika Serikat saat ini tengah mempertimbangkan sejumlah langkah untuk meredam lonjakan harga minyak dunia.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebut opsi yang sedang dikaji antara lain pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia, pelepasan besar-besaran cadangan energi darurat, penghapusan pembatasan pengiriman minyak mentah antar pelabuhan di AS, serta peningkatan pasokan minyak dari Venezuela.

Baca Juga: China Mau Bantu Redakan Ketegangan di Selat Hormuz

Dalam dua pekan terakhir, pejabat Amerika juga diketahui melakukan pembicaraan dengan Exxon dan ConocoPhillips mengenai rencana investasi bernilai miliaran dolar di sektor minyak Venezuela.

Meski demikian, sebagian kalangan industri energi meragukan efektivitas langkah-langkah tersebut untuk mengatasi krisis. Mereka menilai solusi paling mendasar tetap bergantung pada pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat disebut telah memberi tahu Gedung Putih bahwa terdapat opsi untuk membuka kembali jalur laut strategis tersebut. Pemerintah AS bahkan berharap upaya itu dapat dilakukan dalam beberapa minggu ke depan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia, dengan sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati wilayah tersebut setiap hari. Gangguan di selat ini dapat berdampak besar pada harga energi internasional.

Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)

Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari lalu ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan dan korban sipil.

Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Donald Trump Klaim Banyak Negara Kirim Kapal Perang untuk Amankan Selat Hormuz

Eskalasi konflik itu turut memicu penghentian lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara di Teluk Persia ke pasar global.

Sementara itu, dalam pidato pertamanya sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru pada Kamis, 12 Maret 2026, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat tekanan dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

x|close