Rusia Dorong Jalur Diplomasi Usai Ultimatum Donald Trump ke Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Mar 2026, 06:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Bendera nasional Rusia terlihat di Kremlin, Moskow, Rusia. Arsip foto - Bendera nasional Rusia terlihat di Kremlin, Moskow, Rusia. (Antara)

Ntvnews.id, Moskow - Rusia menyerukan penyelesaian melalui jalur politik dan diplomasi terkait konflik di Timur Tengah, menyusul ultimatum dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada Iran agar segera membuka kembali Selat Hormuz.

Dilansir dari AFP, Selasa, 24 Maret 2026, Trump sebelumnya mengancam akan "menghancurkan" fasilitas pembangkit listrik Iran apabila negara tersebut tidak membuka jalur strategis itu dalam waktu 48 jam, yang batas waktunya berakhir pada Senin, 23 Maret 2026 malam waktu AS.

Selat Hormuz sendiri masih tertutup sejak pecahnya konflik pada 28 Februari, yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran.

Menanggapi situasi tersebut, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan pentingnya penyelesaian damai.

"Kami percaya bahwa situasi tersebut seharusnya beralih ke penyelesaian politik dan diplomatik," kata Peskov kepada wartawan dalam konferensi pers.

Baca Juga: Cerita Mbak ART yang Anaknya Dapet MBG: Jujur, Ketolong Banget!

"Ini adalah satu-satunya hal yang dapat secara efektif berkontribusi untuk meredakan situasi tegang yang kini telah berkembang di kawasan tersebut," kata Peskov.

Rusia, yang terlibat dalam pembangunan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr, juga memperingatkan risiko besar jika fasilitas tersebut menjadi sasaran serangan. Pekan lalu, badan pengawas nuklir PBB melaporkan bahwa lokasi tersebut sempat terkena proyektil.

"Tentu saja, ini menimbulkan ancaman keamanan yang sangat serius jika tren ini berlanjut," kata Peskov.

Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) <b>(Antara)</b> Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) (Antara)

"Kami menganggap serangan terhadap fasilitas nuklir berpotensi sangat berbahaya dan penuh dengan konsekuensi, bahkan mungkin tidak dapat dipulihkan," tambahnya.

Rusia disebut terus menjalin komunikasi dengan International Atomic Energy Agency terkait kondisi pembangkit Bushehr.

Sementara itu, kepala badan tersebut, Rafael Grossi, juga menyerukan penahanan diri selama konflik berlangsung guna mencegah risiko kecelakaan nuklir.

x|close