Ntvnews.id, Manila - Pemerintah Filipina pada Selasa menjadi negara pertama yang secara resmi menetapkan keadaan darurat nasional akibat terganggunya rantai pasok energi global imbas konflik di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari GMA News, Rabu, 25 Maret 2026, Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukan status darurat serta mengaktifkan respons nasional untuk memulihkan stabilitas pasokan energi dan menekan dampak ekonomi akibat kenaikan harga bahan bakar.
Salah satu langkah yang diambil pemerintah Filipina adalah meluncurkan program "UPLIFT", yakni kerangka dukungan komprehensif bagi kehidupan masyarakat, sektor industri, pangan, dan transportasi.
Kebijakan ini ditujukan untuk membantu sektor-sektor strategis seperti transportasi, pertanian, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca Juga: Korea Selatan Perketat Pembatasan Kendaraan untuk Antisipasi Krisis Energi
Pejabat setempat menyatakan bahwa penetapan status darurat memberikan kewenangan bagi pemerintah pusat untuk menerapkan pendekatan terpadu dalam penanganan krisis.
Dengan demikian, otoritas dapat mengerahkan sumber daya secara lebih optimal, mengatur distribusi bahan bakar, serta menyalurkan bantuan secara tepat sasaran kepada kelompok yang terdampak.
Filipina sendiri diketahui mengimpor hampir 26 persen kebutuhan energi nasionalnya dari kawasan Timur Tengah, dengan total belanja energi dari wilayah tersebut mencapai 16 miliar dolar AS pada 2024.
Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) (Antara)
Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Selain itu, Teheran juga menguasai Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak global, di mana sebagian besar pasokan energi ke negara-negara Asia melintasi kawasan tersebut.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr. (Antara)