Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah mempertimbangkan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai sosok potensial untuk dijadikan mitra sekaligus pemimpin masa depan Iran.
"Pemerintahan Trump diam-diam mempertimbangkan ketua parlemen Iran sebagai mitra potensial - dan bahkan pemimpin masa depan," demikian laporan Politico seperti dikutip dari Reuters, Rabu, 25 Maret 2026.
Dua pejabat dari pemerintahan Trump mengungkapkan bahwa Ghalibaf dinilai oleh sebagian pihak di Gedung Putih sebagai figur yang dapat dipercaya. Ia dianggap memiliki kapasitas untuk memimpin Iran serta membuka jalur negosiasi dengan Washington dalam tahap lanjutan konflik.
Meski demikian, kedua sumber tersebut menegaskan bahwa Gedung Putih belum mengambil keputusan final terkait sosok yang akan didukung. Pemerintah AS disebut masih ingin menjajaki beberapa kandidat guna menemukan pihak yang bersedia mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Oposisi Desak Israel Lanjutkan Perang dengan Iran, Meski Tanpa AS
"Dia adalah pilihan yang menarik," kata seorang pejabat pemerintahan, dilaporkan Politico.
"Dia salah satu yang tertinggi... Tapi kita harus menguji mereka, dan kita tidak bisa terburu-buru," imbuh pejabat pemerintahan itu.
Sebelumnya, pada Senin, 24 Maret 2026, Trump menunda rencana serangan terhadap jaringan listrik dan infrastruktur energi Iran setelah mengklaim adanya pembicaraan yang produktif dengan sejumlah pejabat Iran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf. ANTARA/Anadolu/aa. (Antara)
Trump menyebut komunikasi tersebut dilakukan dengan tokoh penting, meski bukan pemimpin tertinggi negara itu. Namun, pihak Iran membantah klaim tersebut.
Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa tokoh yang dihubungi oleh pemerintahan Trump adalah Ghalibaf, yang dikenal sebagai salah satu figur non-ulama paling berpengaruh di Teheran.
Di sisi lain, Ghalibaf membantah adanya negosiasi dengan Amerika Serikat. Melalui unggahan di platform X, ia menyebut klaim tersebut sebagai "berita palsu" yang dimaksudkan untuk memengaruhi pasar keuangan dan minyak, serta untuk menghindari jebakan yang diduga dibuat oleh AS dan Israel.
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajansi/pri) (Antara)