Ntvnews.id, Manila - Pemerintah Filipina sedang menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat untuk memperoleh relaksasi atau pengecualian terhadap sanksi, agar tetap bisa mengimpor minyak dari negara-negara yang masuk dalam daftar pembatasan Washington.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri di tengah tekanan global. Duta Besar Filipina untuk AS, Jose Manuel Romualdez, menyebutkan bahwa koordinasi intensif tengah dilakukan dengan Departemen Luar Negeri AS.
“Kami sedang bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri untuk mendapatkan pengecualian atau keringanan agar dapat membeli minyak dari negara-negara yang dikenai sanksi oleh Amerika Serikat,” ujar Romualdez, dikutip dari Channel News Asia, Kamis, 26 Maret 2026.
Saat disinggung kemungkinan pembelian minyak dari Venezuela dan Iran, ia menegaskan bahwa “semua opsi sedang dipertimbangkan.”
Ia juga menyampaikan bahwa tanggapan dari pemerintah AS masih belum final.
“Masih dalam pembahasan,” kata Romualdez.
Baca Juga: Filipina Tetapkan Darurat Nasional Energi, Respons Dampak Konflik Timur Tengah
Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, Filipina menghadapi tekanan serius akibat dinamika geopolitik global. Bahkan, pemerintah telah menetapkan status darurat energi nasional sebagai respons terhadap dampak konflik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok minyak dunia.
Hingga 20 Maret, cadangan bahan bakar Filipina diperkirakan hanya mencukupi sekitar 45 hari. Untuk mengantisipasi kekurangan, pemerintah berupaya menambah cadangan dengan pembelian sekitar satu juta barel minyak.
Penerapan status darurat energi selama satu tahun memberikan kewenangan lebih luas bagi pemerintah untuk melakukan pengadaan bahan bakar dan produk minyak demi memastikan ketersediaan pasokan yang memadai dan tepat waktu.
Arsip - Kapal tanker Suezmax Shenlong berbendera Liberia terlihat di Pelabuhan Mumbai, India, pada 12 Maret 2026, setelah berlayar melalui Selat Hormuz dari pelabuhan Ras Tanura di Arab Saudi. (ANTARA/?mtiyaz Shaikh/Anadolu/pri) (Antara)
Sebagai langkah jangka pendek, pemerintah di Manila juga meningkatkan produksi listrik berbasis batu bara guna meredam tekanan pasokan energi. Selain itu, Filipina dijadwalkan menerima impor minyak mentah dari Rusia untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, setelah memperoleh izin khusus berupa pengecualian sanksi selama 30 hari dari Amerika Serikat.
Sebelumnya, Washington juga memberikan kelonggaran serupa untuk pembelian minyak Iran yang telah berada di laut. Kebijakan ini berlaku untuk minyak yang sudah dimuat ke kapal hingga 20 Maret dan harus dibongkar paling lambat 19 April.
Langkah-langkah tersebut mencerminkan upaya Filipina dalam menjaga ketahanan energi di tengah ketidakpastian global, sekaligus menegosiasikan ruang fleksibilitas dalam kebijakan sanksi internasional.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)