Trump Sindir Putra Mahkota Arab Saudi: Dia Tak Menyangka akan Menjilat Pantatku

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Mar 2026, 12:58
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Arsip - Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat KTT G20 di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019. (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa) Arsip - Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat KTT G20 di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019. (ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa negara-negara kawasan Teluk menjalin koordinasi erat dengan Washington dalam menghadapi Iran. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah forum investasi yang mendapat dukungan dari Arab Saudi, menyoroti posisi strategis kawasan tersebut dalam dinamika geopolitik terbaru.

Dalam kesempatan yang sama, Trump turut menyinggung sosok Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman

. Ia melontarkan komentar bernada sindiran tajam terkait persepsi awal sang pangeran terhadap kepemimpinannya, yang kemudian berubah seiring perkembangan situasi global.

Berbicara di ajang Future Investment Initiative di Florida, Trump mengisahkan percakapan yang ia klaim terjadi dengan kalangan keluarga kerajaan Saudi, khususnya terkait kebangkitan Amerika Serikat di bawah pemerintahannya.

Baca Juga: Hyundai Uji Coba SUV Listrik Murah? Diduga Ioniq 1, Siap Tantang Pasar EV Terjangkau

“Dia tidak menyangka ini akan terjadi... dia tidak menyangka akan menjilat pantatku... dia mengira saya hanya akan menjadi presiden Amerika lain yang pecundang... tapi sekarang dia harus bersikap baik kepada saya,” ujar Trump, dikutip dari Moneycontrol, Minggu (29/3/2026).

Meski sempat melontarkan kritik, Trump juga memberikan pujian terhadap Mohammed bin Salman. Ia menyebut sang putra mahkota sebagai sosok “pria yang fantastis” sekaligus “pejuang,” dan menilai Arab Saudi beralasan untuk merasa bangga atas kepemimpinannya.

Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa Arab Saudi bersama negara-negara Teluk lainnya berada di pihak Amerika Serikat dalam konflik yang memanas dengan Iran. Pernyataan ini muncul sekitar satu bulan setelah operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, yang menargetkan fasilitas militer serta infrastruktur nuklir negara tersebut.

Situasi kemudian berkembang cepat ketika Iran memperluas eskalasi dengan melancarkan serangan rudal dan drone. Target serangan mencakup wilayah Israel serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat, memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.

Baca Juga: Orasi Ilmiah Wakapolda Papua Barat Warnai Wisuda Perdana Universitas Caritas Indonesia

Di tengah ketegangan tersebut, laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa Mohammed bin Salman secara langsung berkomunikasi dengan Trump. Dalam laporan itu, ia disebut mendorong kelanjutan operasi militer dan menyebut momentum tersebut sebagai “kesempatan bersejarah” untuk melemahkan kepemimpinan Iran.

Sumber yang dikutip dalam laporan tersebut juga mengindikasikan bahwa sang putra mahkota mendukung pendekatan yang lebih agresif, termasuk potensi serangan terhadap sektor energi Iran sebagai bagian dari strategi tekanan.

Namun demikian, pihak Arab Saudi membantah klaim tersebut. Riyadh menegaskan bahwa mereka tetap mengedepankan penyelesaian damai dan menempatkan perlindungan terhadap keamanan nasional dari ancaman Iran sebagai prioritas utama.

x|close