Ntvnews.id, New York - Seorang diplomat senior yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan mundur dari jabatannya setelah mengungkap adanya persiapan menghadapi kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran di tengah konflik yang masih berlangsung.
Dilansir dari NDTV, Rabu, 1 April 2026, Mohamad Safa, yang menjabat sebagai perwakilan utama Patriotic Vision (PVA) di PBB, mengumumkan pengunduran dirinya melalui media sosial X. Ia juga menyertakan surat resmi yang menjelaskan alasan di balik keputusannya tersebut.
PVA sendiri merupakan organisasi internasional yang memiliki status konsultatif khusus di bawah Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC).
Dalam pernyataannya, Safa menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui pertimbangan panjang, serta menyoroti adanya dugaan pengaruh lobi terhadap sejumlah pejabat senior PBB.
"Setelah banyak pertimbangan, dan setelah menjadi jelas bagi saya bahwa beberapa pejabat senior PBB melayani lobi yang kuat dan bukan melayani PBB, saya telah memutuskan untuk menangguhkan semua tugas saya sebagai Perwakilan Utama PVA di PBB dan dari semua komite/kelompok PBB yang saya menjadi anggotanya," tulis Safa dalam pernyataannya.
Baca Juga: PBB: Serangan Terhadap UNIFIL Langgar Resolusi DK Nomor 1701
Ia juga menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait kemungkinan penggunaan senjata nuklir dalam konflik tersebut.
"Saya tidak dapat dengan hari nurani yang baik, menjadi bagian dari atau menyaksikan apa yang terjadi pada saat PBB sedang bersiap untuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir," ujarnya.
Dalam unggahan terpisah yang telah dilihat jutaan kali, Safa membagikan foto Teheran sembari memperingatkan seriusnya situasi yang berkembang. Ia menilai banyak pihak belum memahami ancaman nyata dari potensi penggunaan senjata nuklir.
"Saya pikir orang-orang tidak memahami betapa seriusnya situasi ini karena PBB sedang bersiap untuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran," kata Safa dalam postingannya.
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)
"Ini adalah foto Teheran. Untuk Anda yang tidak berpendidikan, tidak pernah bepergian, tidak pernah bertugas, para pendukung perang yang menjilat bibir membayangkan akan mengebomnya. ini bukan gurun dengan populasi rendah. Ada keluarga, anak-anak, hewan peliharaan keluarga. Orang-orang kelas pekerja biasa dengan mimpi. Anda sakit jiwa karena menginginkan perang," tulisnya.
Safa menambahkan bahwa Teheran dihuni oleh hampir 10 juta jiwa, dan mengajak publik membayangkan dampak jika kota-kota besar dunia seperti Washington, Berlin, Paris, atau London mengalami serangan nuklir serupa.
"Saya meninggalkan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini. Saya menangguhkan tugas saya agar tidak menjadi bagian dari atau menyaksikan kejahatan terhadap kemanusiaan ini, dalam upaya mencegah musim dingin nuklir sebelum terlambat," ucapnya.
Baca Juga: Tiket Olimpiade Los Angeles 2028 Mulai Dijual 9 April 2026
"Kemungkinan penggunaan senjata nuklir harus ditanggapi dengan sangat serius. Itu berbahaya. Bertindaklah sekarang. Sebarkan pesan ini ke seluruh dunia. Turunlah ke jalan. Berunjuk rasalah demi kemanusiaan dan masa depan kita. Hanya rakyat yang dapat menghentikannya. Sejarah akan mengingat kita," cetusnya.
Lebih lanjut, Safa mengungkapkan bahwa keinginan untuk mundur sebenarnya telah muncul sejak 2023, namun ia memilih bertahan selama beberapa tahun terakhir. Ia juga menyinggung berbagai konflik global, serta menuding adanya keengganan sebagian pejabat PBB untuk menyatakan bahwa AS dan Israel melanggar hukum internasional.
Ia turut mengaku menghadapi kritik keras hingga ancaman pembunuhan setelah menyampaikan pandangannya terkait konflik yang dipicu serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023 yang kemudian memicu perang di Jalur Gaza.
Ilustrasi - Bendera PBB. (ANTARA/Anadolu)