Ntvnews.id, Beijing - Pemerintah China menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya dua prajurit TNI yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) akibat serangan pada Senin, 30 Maret 2026.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kematian pasukan penjaga perdamaian dari Indonesia. Setiap serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, Selasa.
Dua prajurit TNI yang gugur diketahui tengah menjalankan misi kemanusiaan di Lebanon. Selain itu, dua prajurit lainnya mengalami luka berat dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan di Beirut.
Korban gugur adalah Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, yang merupakan bagian dari tim pengawal Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL dalam unit East Mobile Reserve (SEMR). Keduanya meninggal dunia akibat ledakan saat mengawal konvoi kendaraan UNIFIL di wilayah dekat Bani Hayyan, Lebanon Selatan.
Sementara itu, dua prajurit lainnya, yakni Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto, mengalami luka-luka dalam insiden yang sama.
"Serangan semacam itu sama sekali tidak dapat diterima. Pihak-pihak yang berkonflik harus menghentikan pertempuran sesegera mungkin dan mengambil langkah-langkah konkret untuk memastikan keselamatan pasukan penjaga perdamaian PBB," lanjut Mao Ning.
Ia juga menegaskan bahwa China siap berperan aktif dalam mendorong deeskalasi konflik serta menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah. Pemerintah China turut mendesak semua pihak yang terlibat konflik untuk menurunkan tensi dan menjamin keselamatan personel penjaga perdamaian PBB.
Baca Juga: MPR Minta Pemerintah Pertimbangkan Penarikan Pasukan TNI dari Lebanon
Di sisi lain, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memastikan penyebab ledakan yang menimpa kendaraan prajurit TNI. TNI masih menunggu hasil investigasi resmi dari UNIFIL untuk mengungkap penyebab kejadian tersebut.
Sehari sebelumnya, Minggu, 29 Maret 2026, insiden serangan juga menewaskan satu prajurit TNI lainnya, yakni Praka Farizal Rhomadhon dari Kompi C UNP 7-1 Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL. Ia gugur akibat serangan artileri yang menghantam posisi kontingen Indonesia di dekat Adshit al-Qusyar, Lebanon Selatan. Dengan demikian, total tiga prajurit TNI gugur dalam rangkaian insiden tersebut.
Dalam serangan itu, tiga prajurit lainnya Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif juga mengalami luka-luka.
Menanggapi situasi tersebut, Indonesia mendesak digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB serta meminta penyelidikan yang cepat, menyeluruh, dan transparan atas insiden yang terjadi.
Menteri Luar Negeri Sugiono juga telah berkomunikasi dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres terkait gugurnya pasukan penjaga perdamaian asal Indonesia tersebut.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian Jean-Pierre Lacroix dalam pernyataannya mengecam keras serangan tersebut dan menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban serta pemerintah Indonesia. Ia juga berharap para korban luka dapat segera pulih.
Lacroix menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian tidak boleh dijadikan target serangan karena hal itu melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701, yang diadopsi pada 11 Agustus 2006 sebagai dasar gencatan senjata permanen dan solusi jangka panjang di Lebanon.
Resolusi tersebut juga mengatur pembentukan zona penyangga di Lebanon Selatan, memperkuat jumlah personel UNIFIL hingga maksimal 15.000 orang, serta memperluas mandat untuk memantau gencatan senjata dan mendukung militer Lebanon.
Selain itu, resolusi menekankan pentingnya pelucutan senjata kelompok bersenjata serta memastikan tidak ada otoritas bersenjata selain milik negara Lebanon.
Baca Juga: Israel Kecam Pernyataan PM Spanyol soal TNI Tewas di Lebanon
Ketentuan lainnya mengharuskan wilayah antara Garis Biru sepanjang 120 kilometer yang menjadi batas penarikan antara Lebanon dan Israel hingga Sungai Litani bebas dari personel bersenjata, kecuali milik pemerintah Lebanon dan UNIFIL.
Saat ini, UNIFIL masih melakukan investigasi untuk mengungkap kronologi dan penyebab pasti dari insiden tragis tersebut.
Berdasarkan data dari situs UN Peacekeeping, hingga Januari 2026 terdapat sekitar 756 personel Indonesia yang tergabung dalam misi UNIFIL di Lebanon.
(Sumber: Antara)
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, China, Selasa (31/3/2026). ANTARA/Desca Lidya Natalia/aa. (Antara)