2 Mantan PM Israel Bersatu untuk Gulingkan Netanyahu

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Apr 2026, 00:43
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - PM Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Anadolu Arsip foto - PM Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Anadolu (Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Dua tokoh politik senior Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, mengumumkan rencana penggabungan kekuatan untuk menghadapi pemilihan umum akhir tahun ini dengan tujuan menumbangkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Keduanya sebelumnya pernah menjabat sebagai perdana menteri melalui sistem rotasi dalam pemerintahan koalisi yang dibentuk pada 2021, yang saat itu mengakhiri dominasi Netanyahu selama 12 tahun.

Dilansir dari The Korea Herald, Selasa, 28 April 2026, Bennett dan Lapid kini berencana melebur partai masing-masing ke dalam satu kekuatan politik baru yang akan dipimpin Bennett. Langkah ini mereka gambarkan sebagai penyatuan antara blok politik tengah dan kanan.

Bennett menyatakan bahwa jika berhasil memenangkan pemilu, pemerintahan baru akan langsung membentuk komisi penyelidikan negara pada hari pertama untuk mengusut serangan 7 Oktober 2023 oleh Hamas di wilayah selatan Israel, yang hingga kini menjadi isu sensitif bagi Netanyahu.

Baca Juga: Gencatan Senjata Gaza Belum Tuntas, PM Palestina Soroti “Blokade Ekonomi” Israel

Dorongan untuk penyelidikan independen atas kegagalan keamanan dalam peristiwa tersebut terus meningkat di Israel, mengingat serangan itu merupakan salah satu yang paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.

Sementara itu, Lapid menyerukan agar kekuatan politik tengah di Israel bersatu mendukung Bennett, dengan menyebut bahwa negara membutuhkan persatuan “seperti udara untuk bernapas.”

Dalam kesepakatan politik tahun 2021, Bennett lebih dulu menjabat sebagai perdana menteri sebelum koalisi tersebut runtuh. Lapid kemudian mengambil alih posisi tersebut sebagai penjabat perdana menteri selama enam bulan hingga pemilu berikutnya mengembalikan Netanyahu ke tampuk kekuasaan.

Arsip - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara di markas militer Kirya di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Minggu bahwa angkatan udara Israel menyerang Teheran dengan  <b>(Antara)</b> Arsip - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara di markas militer Kirya di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Minggu bahwa angkatan udara Israel menyerang Teheran dengan (Antara)

Sejak saat itu, Lapid menjadi pemimpin oposisi, sementara Bennett sempat mundur dari panggung politik.

Meski memiliki perbedaan ideologi—Bennett dikenal konservatif religius dengan sikap keras terhadap Palestina, sementara Lapid lebih moderat dan sekuler—keduanya menegaskan bahwa hubungan kerja mereka tetap kuat.

“Kami telah melalui banyak hal bersama. Kami telah membuat keputusan-keputusan sulit bersama. Kami tahu kami bisa saling mengandalkan,” kata Lapid.

Aliansi ini ditujukan untuk menyatukan kubu oposisi Israel yang selama ini terfragmentasi dan hanya memiliki kesamaan dalam penolakan terhadap Netanyahu.

x|close