Indonesia-Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Energi Bersih, Dorong Transisi dan Kemandirian Energi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Apr 2026, 17:30
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. ANTARA/HO-Humas Kementerian ESDM. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. ANTARA/HO-Humas Kementerian ESDM. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Indonesia melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersama Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan Kim Sungwhan resmi menjalin kerja sama di sektor energi bersih melalui penandatanganan memorandum saling pengertian (MSP) atau memorandum of understanding (MoU).

Kesepakatan ini diumumkan bertepatan dengan pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Blue House, Seoul.

"MSP ini penting sebagai fondasi bagi kedua belah pihak dalam mendorong transisi energi, khususnya energi bersih sesuai kemampuan negara masing-masing. (Energi terbarukan) ini bagus buat kita ke depan. Jangan sampai ditunda lagi pemanfaatannya," ujar Menteri Bahlil.

Dalam situasi global yang dipenuhi ketidakpastian, termasuk dampak konflik geopolitik terhadap harga energi, Indonesia terus memperkuat kemitraan strategis dengan negara-negara di Asia Timur, salah satunya Korea Selatan.

Menurut Bahlil, kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memperkokoh kedaulatan dan kemandirian energi nasional, sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi di tengah fluktuasi harga energi fosil.

Ia juga menekankan bahwa hubungan panjang antara Indonesia dan Korea Selatan menjadi modal kuat dalam membangun kerja sama yang saling menguntungkan.

"Korea ini kan sahabat lama Indonesia. Jadi, kita sama-sama tahu kelebihan dan potensi energi masing-masing. Kalau saling melengkapi bisa memperkuat kemandirian energi sesuai arahan Bapak Presiden," jelasnya.

Kerja sama dalam MSP mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi, hingga energi masa depan seperti nuklir dan hidrogen.

Baca Juga: Kepercayaan Investor Jepang ke Indonesia Tetap Tinggi, 10 MoU Senilai Rp401 Triliun Ditandatangani

Selain itu, kedua negara juga sepakat memperkuat sistem penyimpanan energi (energy storage system/ESS), efisiensi energi, bioenergi, serta pemanfaatan limbah menjadi sumber energi.

Pembangunan infrastruktur pendukung juga menjadi bagian penting dalam kolaborasi ini, termasuk pengembangan jaringan listrik pintar, stasiun pengisian kendaraan listrik, serta industri baterai dari hulu hingga proses daur ulang.

"Termasuk, juga dukungan bagi sistem energi terpadu di pulau-pulau mandiri energi supaya manfaat energi bersih bisa dirasakan lebih luas, termasuk di wilayah terpencil," tambah Bahlil.

Melalui kerja sama ini, pemerintah berharap terjadi transfer teknologi, peningkatan investasi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor energi.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo menilai hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatan memiliki peran penting, terutama di tengah kondisi global yang tidak stabil.

"Korea Selatan memiliki kemampuan industrial dan teknologi yang luar biasa, sementara Indonesia mempunyai sumber daya yang melimpah dan pasar yang besar," ujar Prabowo.

Presiden Lee Jae-myung juga menyampaikan bahwa hubungan kedua negara kini telah mencapai tingkat tertinggi dalam kerja sama bilateral.

Baca Juga: Berangkatkan 1.496 Peserta, KESDM Bersama PLN dan BUMN Energi Fasilitasi Mudik Gratis ke 20 Rute Tujuan

"Selama lebih dari 50 tahun menjalin hubungan diplomatik, Indonesia dan Korea Selatan telah menjadi mitra dan sahabat yang terpercaya dan saling mendukung. Indonesia adalah tujuan investasi luar negeri pertama bagi perusahaan-perusahaan Korea," ujar Lee.

Sebagai informasi, kerja sama industri antara kedua negara juga telah berjalan, salah satunya melalui pabrik baterai kendaraan listrik Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang, Jawa Barat yang mulai beroperasi sejak Juli 2024.

Tahap awal proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar 1,1 miliar dolar AS dengan kapasitas produksi baterai kendaraan listrik mencapai 10 gigawatt/jam (GWh), setara dengan 32,6 juta sel baterai, yang mampu mendukung sekitar 150.000 kendaraan listrik.

(Sumber: Antara)

x|close