Ntvnews.id, Jakarta - Ketegangan antara Donald Trump dan Iran kembali memanas setelah sang presiden melontarkan ancaman keras yang menyebut Iran akan berubah menjadi “neraka” jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Ancaman itu disampaikan Trump melalui akun media sosialnya pada Minggu (5/4/2026). Ia secara terbuka memperingatkan bahwa tindakan militer besar akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semua terbungkus dalam satu, di Iran,” kata Trump.
Ia kemudian mempertegas ancamannya dengan nada yang jauh lebih keras.
“Tidak akan ada yang seperti ini!!! Buka Selat itu, dasar bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka, LIHAT SAJA! Segala puji bagi Tuhan,” paparnya.
Pernyataan tersebut merujuk pada rencana serangan terhadap infrastruktur vital Iran, khususnya fasilitas pembangkit listrik, jika akses di Selat Hormuz tetap ditutup.
Baca Juga: Trump Tak Muncul Seharian hingga Disebut Dirawat di RS, Gedung Putih Akhirnya Buka Suara
Sebelumnya, pada 21 Maret, Trump juga sempat mengancam akan “melenyapkan” jaringan listrik Iran, dimulai dari fasilitas terbesar di negara itu. Namun beberapa hari setelahnya, ia sempat menyebut adanya negosiasi yang berjalan produktif dengan Teheran.
Meski demikian, pihak Iran tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Militer Iran justru menilai ancaman tersebut sebagai bentuk kepanikan dari Trump.vAli Abdollahi Aliabadi menyatakan bahwa retorika Presiden AS itu mencerminkan ketidakstabilan.
"Ancaman demi ancaman dari Trump merupakan tindakan tak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh," katanya dalam pernyataan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Sabtu (4/4/2026).
Ia bahkan membalikkan ancaman Trump dengan peringatan serupa.
"Arti dari sederhana dari pesan ini adalah gerbang neraka akan terbuka untuk Anda," katanya.
Di tengah perang yang telah berlangsung lebih dari sebulan, Iran tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis bagi distribusi minyak dan gas dunia. Ketegangan semakin meningkat setelah Iran kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel dan Kuwait pada Minggu pagi (5/4/2026).
Baca Juga: DPR: UU Hukuman Mati Tahanan Palestina Ancaman Nyata Genosida
Otoritas di kedua negara tersebut mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka diaktifkan untuk merespons serangan terbaru tersebut. Konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel ini kini telah meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah dan turut mengguncang stabilitas ekonomi global.
Di sisi lain, serangan balasan juga terjadi. Pada Sabtu, fasilitas petrokimia di barat daya Iran dilaporkan dihantam serangan yang diduga dilakukan oleh Israel atau Amerika Serikat, menewaskan lima orang menurut pejabat setempat di Provinsi Khuzestan.
Situasi semakin memanas setelah Trump mengunggah video yang memperlihatkan ledakan besar di langit malam. Dalam unggahan tersebut, ia mengklaim sejumlah pemimpin militer Iran telah dilenyapkan dalam serangan besar di Teheran, meski tanpa memberikan rincian waktu kejadian.
Konfrontasi verbal dan militer yang terus meningkat ini memperlihatkan eskalasi serius, dengan ancaman terbuka dari Trump yang menempatkan Iran dalam bayang-bayang serangan besar jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. (Antara)