Indonesia dan Negara Kontributor UNIFIL Kutuk Serangan terhadap Pasukan Perdamaian di Lebanon

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Apr 2026, 13:55
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Duta Besar Umar Hadi (tengah), membacakan “Joint Statement on the Safety and Security of Peacekeepers” di Markas PBB New York, Kamis (9/4/2026). Sebanyak 73 negara dan observer PBB telah bergabung dalam pernyataan bersama itu serta pembacaan pernyataan turut dihadiri oleh perwakilan negara lain seperti Inggris, Rusia, China, Pakistan, Bahrain, Spanyol, dan Malaysia. (ANTARA/HO-Kemlu RI) Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Duta Besar Umar Hadi (tengah), membacakan “Joint Statement on the Safety and Security of Peacekeepers” di Markas PBB New York, Kamis (9/4/2026). Sebanyak 73 negara dan observer PBB telah bergabung dalam pernyataan bersama itu serta pembacaan pernyataan turut dihadiri oleh perwakilan negara lain seperti Inggris, Rusia, China, Pakistan, Bahrain, Spanyol, dan Malaysia. (ANTARA/HO-Kemlu RI) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Indonesia bersama negara-negara kontributor United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mengecam keras serangan berulang terhadap pasukan penjaga perdamaian yang mengakibatkan gugurnya tiga personel Indonesia serta melukai sejumlah pasukan dari negara lain.

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Tetap RI untuk PBB, Duta Besar Umar Hadi saat membacakan “Joint Statement on the Safety and Security of Peacekeepers” di Markas Besar United Nations di New York pada 9 April 2026.

Pernyataan bersama yang diinisiasi Indonesia dan didukung berbagai negara kontributor UNIFIL itu menegaskan kecaman atas insiden terbaru yang menimbulkan korban jiwa.

“Kami mengutuk keras serangan terus-menerus terhadap UNIFIL, termasuk serangan serius terbaru yang menelan korban jiwa tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia dan melukai beberapa pasukan penjaga perdamaian lainnya dari Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia,” demikian isi pernyataan tersebut.

Selain itu, negara-negara kontributor bersama anggota lainnya, termasuk Uni Eropa, menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di Lebanon sejak 2 Maret 2026 yang berdampak pada keselamatan pasukan penjaga perdamaian.

Mereka juga menegaskan dukungan penuh terhadap mandat UNIFIL sesuai resolusi Dewan Keamanan PBB, serta mendesak semua pihak untuk menjamin keamanan personel dan fasilitas penjaga perdamaian berdasarkan hukum internasional.

Baca Juga: PBB Ungkap Penyebab Tewasnya Pasukan UNIFIL di Lebanon

“Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar, dan kami mendesak PBB dan Dewan Keamanan untuk menggunakan semua alat yang tersedia untuk memperkuat perlindungan pasukan penjaga perdamaian PBB dalam lingkungan yang semakin berbahaya,”kata pernyataan bersama itu.

Lebih lanjut, pernyataan tersebut meminta PBB untuk melakukan investigasi secara cepat, transparan, dan menyeluruh terhadap setiap serangan, serta memastikan pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.

Pernyataan bersama itu juga menyoroti situasi kemanusiaan yang memburuk di Lebanon, termasuk tingginya korban sipil, kerusakan infrastruktur, serta pengungsian lebih dari satu juta orang.

“Kami menyerukan kepada para pihak untuk segera kembali pada kesepakatan penghentian permusuhan tahun 2024 dan menghormati Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006),” menurut pernyataan tersebut.

Negara-negara tersebut juga menyerukan penghentian permusuhan, deeskalasi konflik, serta kembalinya semua pihak ke meja perundingan, sembari menegaskan komitmen terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah Lebanon.

Baca Juga: Ngeri! Tentara UNIFIL Asal Spanyol Sempat Ditahan Israel Saat Kirim Logistik ke Kontingen Indonesia

Sebagai penutup, mereka memberikan penghormatan kepada seluruh pasukan penjaga perdamaian PBB atas dedikasi dan pengabdian mereka dalam menjaga perdamaian dunia, serta mengapresiasi kontribusi negara-negara pengirim pasukan.

Tercatat, sebanyak 73 negara dan pengamat PBB turut bergabung dalam pernyataan bersama ini, dengan kehadiran perwakilan dari berbagai negara seperti Inggris, Rusia, China, Pakistan, Bahrain, Spanyol, dan Malaysia.

(Sumber: Antara)

x|close