Iran Ancam Tutup Laut Merah Jika Amerika Blokade Kapal Tankernya di Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Apr 2026, 09:58
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz setelah gencatan senjata AS-Iran sementara selama dua pekan, dengan syarat selat tersebut dibuka kembali, terlihat di Oman, Rabu (8/4/2026). /ANTARA/Shady Alassar/Anadolu/pri. Kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz setelah gencatan senjata AS-Iran sementara selama dua pekan, dengan syarat selat tersebut dibuka kembali, terlihat di Oman, Rabu (8/4/2026). /ANTARA/Shady Alassar/Anadolu/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Iran memperingatkan bahwa eskalasi di jalur energi global dapat meluas ke Laut Merah jika tekanan Amerika Serikat meningkat di Teluk. Ancaman ini muncul sebagai respons langsung terhadap rencana blokade maritim yang diumumkan oleh Donald Trump terhadap perairan Iran.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa langkah tersebut tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Media pemerintah Iran bahkan menyampaikan peringatan keras: "jika Trump mengambil tindakan terhadap Selat Hormuz, ia juga akan kehilangan Selat Bab al-Mandeb," merujuk pada kemungkinan penutupan jalur strategis lain di kawasan.

Selat Bab al-Mandeb sendiri merupakan jalur sempit di ujung selatan Laut Merah, yang menghubungkan perairan tersebut dengan Teluk Aden. Lokasinya yang berada di antara Yaman dan Djibouti menjadikannya salah satu chokepoint terpenting dalam perdagangan global.

Ancaman Iran ini berkaitan erat dengan kebijakan AS yang akan memblokade akses keluar-masuk kapal di Selat Hormuz. Militer AS menyatakan bahwa blokade akan diberlakukan terhadap seluruh kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran, termasuk wilayah di Teluk Persia dan Teluk Oman. Namun, kapal yang tidak terhubung dengan pelabuhan Iran disebut tidak akan terkena kebijakan tersebut.

Di pihak Iran, respons tidak hanya bersifat retoris. Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa kawasan Bab al-Mandeb kini dipandang setara dengan Hormuz dalam konteks strategi militer dan ekonomi.

Baca Juga: Harga Emas Antam Awal Pekan Merosot ke Rp2,81 Juta per Gram

Ia menyatakan, "Saat ini, komando gabungan Front Perlawanan memandang Bab al-Mandeb sama seperti Hormuz," dan memperingatkan, "Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan bodohnya, mereka akan segera menyadari bahwa aliran energi dan perdagangan global dapat terguncang hanya dengan satu gerakan."

Signifikansi ancaman ini tidak bisa diremehkan. Sekitar 12 persen aliran minyak dunia melewati Bab al-Mandeb, menjadikannya jalur vital yang menghubungkan pasar Asia dan Eropa. Gangguan di titik ini berpotensi memicu gejolak besar dalam distribusi energi global.

Ketegangan di kawasan tersebut juga dipengaruhi oleh dinamika konflik yang lebih luas. Kelompok Houthi di Yaman, yang memiliki hubungan dengan Iran, sebelumnya telah menargetkan kapal-kapal di Laut Merah sebagai respons atas operasi militer Israel di Jalur Gaza.

Pada 28 Maret, kelompok ini secara resmi menyatakan bergabung dalam konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, bahkan meluncurkan dua rudal balistik ke wilayah selatan Israel.

Dengan posisi Bab al-Mandeb sebagai jalur energi utama dunia, ancaman Iran memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas di Teluk, melainkan berpotensi meluas ke jalur perdagangan global yang lebih luas, membuka risiko gangguan besar terhadap stabilitas ekonomi internasional.

x|close