Menilik Masa Lalu dan Kini: Transformasi dan Jejak Kemanusiaan JNE Menghubungkan Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Apr 2026, 04:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
 Di balik setiap paket yang berpindah tangan, selalu ada cerita yang ikut bergerak Di balik setiap paket yang berpindah tangan, selalu ada cerita yang ikut bergerak (JNE)

Ntvnews.id, Jakarta - Di balik setiap paket yang berpindah tangan, selalu ada cerita yang ikut bergerak. Bagi sebagian orang, layanan logistik hanyalah soal kecepatan pengiriman. Namun bagi JNE, perjalanan sebuah paket kerap menjadi jembatan yang menghubungkan harapan, nilai kemanusiaan, hingga pengalaman spiritual yang tak terduga.

Menilik rangkaian kisah yang lahir dari berbagai program sosial, inovasi keberlanjutan, hingga pengalaman personal para karyawan dan mitra perusahaan yang dibagikan dalam laman penyebaran informasi JNE News Online yang menjelaskan bentuk transformasi dan jejak kemanusiaan JNE dalam beberapa tahun kebelakang.

Kisah ari pesantren di Jakarta Utara, jalanan Tangerang yang mulai ramah lingkungan, hingga ruang seni bagi penyandang autisme di Bintaro, semua terhubung dalam satu benang merah: menghadirkan makna di balik setiap perjalanan.

Menyusuri Malam di Pesantren: Ketika Nilai Perusahaan Bertemu Spiritualitas

Pada Malam Jumat, 26 Maret 2026, menjelaskan gambaran keadaan hujan rintik dan udara dingin di kawasan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di lantai dua Pondok Pesantren Al Muttaqien Payaman 3, puluhan karyawan JNE duduk bersila melingkar dalam suasana hening yang khidmat.

Baca Juga: Pelita Air–JNE Gratiskan Pengiriman Bantuan Kemanusiaan ke Sumatera

Jarum jam sudah menunjukkan lewat pukul 22.00 WIB. Namun di dalam ruangan, kegiatan justru semakin dalam maknanya. Tradisi sorogan metode belajar khas pesantren di mana santri duduk melingkar bersama kiai menjadi bagian dari pengalaman yang tak biasa bagi para peserta program Pesantren Express Nurani (Nurturing Value and Integrity in Ramadan).

Program yang diikuti oleh 47 karyawan JNE Jakarta ini berlangsung pada 7–8 Maret 2026. Mereka tidak sekadar “berkunjung” ke pesantren, tetapi benar-benar tinggal, belajar, dan merasakan kehidupan santri.

Sebanyak 47 karyawan JNE Jakarta mondok atau tinggal di pesantren mengikuti program Pesantren Express Nurani <b>(JNE)</b> Sebanyak 47 karyawan JNE Jakarta mondok atau tinggal di pesantren mengikuti program Pesantren Express Nurani (JNE)

Dalam kesempatan tersebut, KH Khozinatul Asror, pimpinan pondok pesantren, menyampaikan materi yang menghubungkan nilai-nilai Islam dengan core value perusahaan seperti jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan visioner.

“Nilai-nilai pesantren sangat relevan dengan dunia kerja. Disiplin waktu, kerja sama, kerja keras, dan kedekatan kepada Tuhan menjadi fondasi penting,” ujarnya.

Bagi para karyawan, pengalaman ini bukan sekadar agenda Ramadan, melainkan perjalanan reflektif yang mengubah cara pandang terhadap pekerjaan dan kehidupan.

Ketika Kantor dan Pesantren Bertemu dalam Satu Makna

HC Development Division JNE, Fikri Al Haq, menyebut program ini sebagai cara untuk memperdalam pemahaman karyawan terhadap nilai perusahaan melalui pendekatan spiritual.

“Di bulan Ramadan ini kita ingin mencari keberkahan, sekaligus memahami nilai perusahaan dari perspektif yang lebih luas, termasuk dari sudut pandang agama,” ungkapnya.

Kesan serupa datang dari Weno, karyawan JNE Sunter, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pesantren.

Baca Juga: Pelita Air–JNE Gratiskan Pengiriman Bantuan Kemanusiaan ke Sumatera

“Sebelumnya hanya lihat di media sosial, sekarang bisa merasakan langsung kehidupan santri. Ternyata suasananya sangat hangat dan mengasyikkan,” katanya.

Sementara Kris Pramono dari JNE Tomang menambahkan bahwa kedisiplinan santri memberi pelajaran berharga.

“Mereka hidup sederhana, tapi sangat disiplin. Ketika azan berkumandang, semuanya langsung ke masjid. Itu sangat menginspirasi,” ujarnya.

Langkah Hijau di Jalanan Tangerang: Kendaraan Listrik untuk Masa Depan

JNE Cabang Utama Tangerang resmi mulai menggunakan kendaraan listrik untuk pengantaran paket ke alamat akhir pelanggan <b>(JNE)</b> JNE Cabang Utama Tangerang resmi mulai menggunakan kendaraan listrik untuk pengantaran paket ke alamat akhir pelanggan (JNE)

Cerita lain datang dari Tangerang. Pada 2 Februari 2026, JNE Tangerang resmi mengoperasikan 10 unit kendaraan listrik untuk layanan last mile delivery. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam transformasi operasional yang lebih ramah lingkungan.

Seremoni serah terima dilakukan di BSD, Tangerang Selatan, dengan menghadirkan jajaran manajemen JNE serta perwakilan industri otomotif.

Kepala Cabang JNE Tangerang, Teddy Apriadi, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar modernisasi armada, tetapi bagian dari komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan.

“Ini upaya nyata untuk beralih ke kendaraan yang lebih hemat energi, ramah lingkungan, dan efisien,” ujarnya.

Dengan kendaraan listrik ini, proses pengantaran paket di wilayah perkotaan diharapkan menjadi lebih cepat, senyap, dan tentu saja lebih bersih.

Direktur Operasional Wuling, Hari Kamora, turut mengapresiasi langkah tersebut sebagai bagian dari tren global menuju efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon.

Transformasi ini menandai bahwa perjalanan paket bukan hanya tentang jarak, tetapi juga tentang dampak yang lebih luas terhadap lingkungan.

Seni, Inklusi, dan Kemanusiaan: Ketika Mural Menjadi Bahasa Universal

Marketing Project Senior Analyst JNE Mahesa Sanggeni (kiri) bersama Founder Rumah I&rsquo;mStar, Dewi Samarabhawa. <b>(JNE)</b> Marketing Project Senior Analyst JNE Mahesa Sanggeni (kiri) bersama Founder Rumah I’mStar, Dewi Samarabhawa. (JNE)

Di sisi lain Jakarta, tepatnya di Bintaro, kisah yang tak kalah menyentuh lahir dari ruang seni Rumah I’mStar. Di tempat ini, sejumlah penyandang autisme menuangkan kreativitas mereka dalam bentuk sketsa mural yang akan menghiasi kantor JNE Tomang 6.

Ivan (33), salah satu peserta, tampak serius menorehkan warna di atas kanvas. Bersama delapan rekannya, ia menciptakan karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna.

Menurut Founder Rumah I’mStar, Dewi Samarabhawa, kegiatan melukis ini menjadi ruang penting bagi para penyandang autisme untuk menyalurkan bakat.

“Setiap Jumat mereka berlatih melukis. Ada yang untuk pameran, ada juga yang untuk kebutuhan seperti kolaborasi dengan JNE,” jelasnya.

Kolaborasi ini bukan sekadar proyek seni, tetapi juga bentuk pengakuan atas kemampuan mereka.

Marketing Project Senior Analyst JNE, Mahesa Sanggeni, menegaskan bahwa mural tersebut memiliki nilai lebih dari sekadar dekorasi.

“Karya ini memiliki makna dan value tinggi. Ini adalah bentuk inklusi dan apresiasi terhadap keberagaman kemampuan,” ujarnya.

Menghubungkan Kebaikan: Dari Mushaf hingga Harapan

Jejak sosial JNE juga terlihat dalam program distribusi 10 ribu kitab Iqra <b>(JNE)</b> Jejak sosial JNE juga terlihat dalam program distribusi 10 ribu kitab Iqra (JNE)

Jejak sosial JNE juga terlihat dalam program distribusi 10 ribu kitab Iqra yang dilakukan bersama Yayasan SPAI. Melalui program ini, perusahaan menyalurkan kitab ke puluhan titik di seluruh Indonesia secara gratis.

Program yang sudah berjalan sejak 2019 ini menjadi bagian dari komitmen CSR untuk mendukung pendidikan keagamaan.

Dari Bogor hingga Jember, dari Banten hingga Lampung, kitab-kitab tersebut tiba di tangan para santri yang menanti dengan penuh harapan.

Bagi banyak penerima, kiriman ini bukan sekadar paket, tetapi sarana untuk belajar, menghafal, dan mendekatkan diri pada nilai-nilai spiritual.

Satu Perusahaan, Banyak Cerita yang Terhubung

Jika dirangkai, seluruh kisah ini membentuk satu narasi besar tentang bagaimana JNE tidak hanya bergerak dalam ruang logistik, tetapi juga dalam ruang sosial, budaya, dan kemanusiaan.

Dari pesantren yang mengajarkan nilai integritas, kendaraan listrik yang membawa pesan keberlanjutan, hingga mural inklusif yang membuka ruang bagi difabel, semuanya menunjukkan satu hal: perjalanan sebuah perusahaan bisa menjadi perjalanan nilai.

Di tengah dunia yang serba cepat, cerita-cerita ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap paket yang dikirim, ada manusia, ada harapan, dan ada makna yang terus bergerak.

Selogan Bergerak Bersama, Beragam Cerita bukan sekadar kalimat. Ia hidup dalam pengalaman nyata para karyawan, mitra, dan masyarakat yang terhubung melalui layanan JNE.

Dari ruang pesantren yang sunyi hingga jalanan kota yang sibuk, dari kanvas mural hingga rak-rak kitab, setiap langkah menunjukkan bahwa logistik bukan hanya soal mengirim barang, tetapi juga mengirim kebaikan.

Dan selama masih ada cerita yang perlu dihubungkan, perjalanan itu akan terus bergerak bersama.

x|close