Ntvnews.id
"Kami akan tetap berada di medan perang hingga napas terakhir," kata Qassem dalam pidato yang disiarkan melalui al-Manar TV pada Senin, 13 April 2026.
Qassem menyatakan bahwa apa yang ia sebut sebagai "agresi Israel yang didukung Amerika Serikat (AS)" tidak hanya menargetkan Hizbullah, tetapi juga seluruh wilayah Lebanon.
Ia menilai kelompoknya bersama para pendukung telah menunjukkan ketahanan meskipun mengalami kerugian besar.
Baca Juga: Pemimpin Hizbullah Paparkan Syarat Akhiri Konflik dengan Israel
Ia juga menuding Israel tidak menjalankan komitmennya dalam perjanjian gencatan senjata November 2024, yang sebelumnya disepakati untuk menghentikan konflik serta menarik pasukan dari wilayah Lebanon.
Kesepakatan tersebut mengakhiri konflik selama 15 bulan antara Israel dan Hizbullah. Meski pertempuran besar telah mereda, kedua pihak masih saling menuduh melakukan pelanggaran.
Israel menilai Hizbullah belum melucuti persenjataan, sementara Hizbullah menyebut pasukan Israel masih berada di wilayah Lebanon meskipun tenggat penarikan telah lewat.
Qassem juga menilai jalur diplomasi sejauh ini belum mampu menghentikan kekerasan dan belum memberikan "hasil nyata", sementara serangan masih terus berlangsung.
Ia meminta pemerintah Lebanon untuk menegakkan isi kesepakatan, termasuk memastikan penarikan pasukan Israel, pemulangan warga yang mengungsi, percepatan rekonstruksi, serta pembebasan tahanan.
Lebih lanjut, Qassem menolak berbagai inisiatif diplomatik yang sedang dibahas, dengan menyebut upaya negosiasi dengan Israel sebagai bentuk “tunduk dan menyerah” serta tidak mencerminkan kesepakatan nasional.
Ia juga memperingatkan bahwa proposal pembicaraan yang diusulkan pihak Israel bertujuan melucuti kekuatan Hizbullah dan membuka jalan normalisasi hubungan.
Selain itu, ia mengkritik adanya tekanan dari luar negeri terhadap Lebanon untuk menghadapi Hizbullah, serta menegaskan bahwa penguatan militer nasional tidak boleh mengganggu stabilitas dalam negeri.
Qassem pun menyerukan persatuan antar faksi di Lebanon dan mengingatkan agar tidak mengambil langkah yang berpotensi memperdalam konflik internal.
Baca Juga: Enggan Disalahkan, Israel Singgung Peran Hizbullah dalam Kasus 3 Prajurit TNI Tewas di Lebanon
Ia menegaskan kembali bahwa Hizbullah akan terus menjalankan operasi militernya, dengan menyebut perlawanan sebagai satu-satunya pilihan dalam menghadapi serangan yang berkelanjutan.
Menurutnya, kelompok tersebut siap menghadapi konflik jangka panjang dengan tujuan menghentikan pertempuran dan “membebaskan tanah Lebanon”.
Sementara itu, perwakilan Lebanon dan Israel dijadwalkan menggelar pembicaraan langsung yang jarang terjadi di Washington pada Selasa (14 April 2026), dengan keterlibatan pejabat dari Amerika Serikat.
Hizbullah sendiri mulai terlibat dalam konflik terbaru pada 2 Maret 2026 dengan meluncurkan roket dari Lebanon selatan ke wilayah Israel, menandai eskalasi pertama sejak gencatan senjata 2024.
Sebagai respons, Israel meningkatkan operasi militernya di berbagai wilayah Lebanon yang dilaporkan menewaskan lebih dari 2.000 orang.
(Sumber: Antara)
Foto yang diambil pada 12 Maret 2026 menunjukkan bangunan-bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di daerah Bachoura, Beirut, Lebanon. ANTARA/Xinhua/Bilal Jawich (Antara)