Aboe Bakar Menangis Usai Diperiksa MKD soal Ucapan Narkoba di Pesantren Madura

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Apr 2026, 17:46
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Habib Aboe Bakar Alhabsyi. Habib Aboe Bakar Alhabsyi. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI Habib Aboe Bakar Al-Habsyi diperiksa Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR hari ini, buntut pernyataannya soal adanya peredaran narkoba di lingkungan pesantren Madura yang dikendalikan ulama. Aboe Bakar menitikkan air mata kala menyampaikan permohonan maaf, usai diperiksa MKD.

Aboe Bakar mengaku salah atas ucapannya tersebut karena bahasa yang digunakannya bisa menciptakan banyak persepsi.

"Mulai dari Bangkalan, Sampang, Sumenep dan Pamekasan. Warga Madura, ulama-ulama, tokoh-tokoh masyarakat semua. Saya harus mengatakan saya minta maaf," ujar Aboe di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 14 April 2026.

Ia mengaku sudah memberikan keterangan kepada MKD DPR dalam pemanggilan tersebut. Menurut Aboe Bakar, tak ada niat dirinya untuk menyudutkan ulama dan pesantren di Madura.

"Perlu saya jelaskan bahwa pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks keprihatinan agar BNN untuk membantu agar narkoba tidak masuk ke wilayah-wilayah pesantren dan masyarakat," papar dia.

Ia menjelaskan, penyebaran narkotika sudah semakin luas di tengah masyarakat hingga menyasar berbagai lapisan. Karenanya ia mengajak lembaga pendidikan keagamaan untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat pencegahan narkoba.

"Namun saat ini cara penyampaian saya yang kurang tepat. Saya ulangi lagi pernyataan saya kurang tepat. Sehingga menimbulkan multitafsir," tuturnya.

Aboe Bakar menegaskan, ulama dan pesantren adalah pilar utama dalam menjaga moral dan akhlak bangsa. Dalam konteks pemberantasan narkoba, menurut dia, peran ulama sangat strategis sebagai garda terdepan dalam edukasi dan pencegahan.

"Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih berbaik hati dalam menyampaikan, lebih berhati-hati, maksud saya, dalam menyampaikan pandangan di ruang publik," jelas dia.

Sebelumnya, dalam dapat Komisi III DPR RI bersama Badan Narkotika Nasional di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa, 7 April 2026, Aboe Bakar mengatakan bahwa BNN harus berkolaborasi dengan lembaga lainnya, dan mempelajari cara kerja peredaran narkotika, yang sudah merambah ke berbagai lapisan.

Ia lalu mencontohkan bahwa diduga ada ulama-ulama dan pesantren-pesantren di Madura yang terlibat dengan narkotika. Dia pun meminta kepada BNN untuk mengecek dan mengonfirmasi kebenaran informasi itu.

"Saya khawatir yang bermain-main ini yang punya posisi atau pebisnis besar," ujar Aboe.

x|close