Ntvnews.id, Jakarta - Peningkatan kasus diabetes di Indonesia kian menjadi perhatian serius, seiring tren yang terus naik dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini mendorong perlunya penanganan yang lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi pengobatan, tetapi juga pencegahan dan edukasi yang melibatkan berbagai pihak.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10,9 persen. Angka ini terus berkembang, dengan jumlah penyandang diabetes pada 2024 diperkirakan menyentuh 20,4 juta orang, menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi sebesar 11,7 persen pada penduduk usia di atas 15 tahun. Dari estimasi sekitar 30 juta penderita, baru sekitar 10–15 juta yang terdiagnosis.
Data tersebut menunjukkan masih rendahnya deteksi dini di masyarakat. Banyak kasus baru diketahui setelah memasuki tahap lanjut atau muncul komplikasi. Padahal, diabetes dapat memicu berbagai penyakit serius seperti hipertensi, gangguan ginjal, penyakit jantung, hingga katarak.
Perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan kasus. Pola makan yang tidak seimbang serta minimnya aktivitas fisik membuat diabetes kini tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga mulai ditemukan pada usia produktif bahkan anak-anak.
Baca Juga: TNI AU dan Basarnas Evakuasi Korban Helikopter Jatuh PK-CFX ke Pontianak
Dalam menghadapi situasi ini, PT Kalbe Farma Tbk menilai penanganan diabetes harus dilakukan secara menyeluruh melalui kolaborasi lintas sektor. Pendekatan ini mencakup keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, industri, akademisi, hingga masyarakat.
Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulialie, menegaskan bahwa sinergi menjadi kunci utama dalam pengendalian penyakit ini.
“Kalbe secara konsisten mendukung perluasan akses kesehatan, peningkatan kemandirian dan ketahanan kesehatan di Indonesia. Penanganan diabetes tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, industri, dan masyarakat. Untuk itu, Kami terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan terintegrasi menjadi salah satu strategi yang didorong, mencakup pencegahan, deteksi dini, terapi, nutrisi, hingga edukasi berkelanjutan dalam satu ekosistem layanan kesehatan.
“Salah satu bentuk dukungan Kalbe terhadap penanganan diabetes yang terintegrasi yaitu Kalbe Diabetes Total Solution, yakni pendekatan terintegrasi mulai pencegahan, deteksi dini, terapi, nutrisi, dan edukasi berkelanjutan dalam suatu ekosistem kesehatan. Kami percaya bahwa pendekatan yang terintegrasi ini akan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. “ tambah Mulialie.
Dari sisi pemerintah, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, menekankan bahwa diabetes memberikan dampak besar terhadap sistem kesehatan nasional, termasuk dari sisi pembiayaan.
Baca Juga: PBB Sambut Gencatan Senjata Lebanon-Israel, Siap Dukung Perdamaian
Ia mengungkapkan data BPJS menunjukkan peningkatan kasus diabetes hingga 40 persen, sementara biaya pengobatan gagal ginjal melonjak hingga 476 persen. Karena itu, penguatan pendekatan promotif dan preventif menjadi sangat penting.
“Penanganan diabetes membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dari hulu ke hilir. Mulai dari faktor resikonya, deteksi dini dan pengobatan. Pemerintah terus mendorong penguatan layanan kesehatan, khususnya pada aspek promotif dan preventif. Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam pengendalian diabetes. Selain itu, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan untuk memperluas jangkauan program. Dengan sinergi yang baik, kita dapat menekan angka prevalensi diabetes di Indonesia,” tutur dr. Nadia.
Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mendorong deteksi lebih awal.
“Deteksi dini merupakan langkah penting dalam pengendalian diabetes. Maka masyarakat perlu lebih proaktif dalam melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dengan diagnosis yang lebih cepat, intervensi dapat dilakukan lebih optimal. Hal ini juga dapat mencegah komplikasi yang lebih serius. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan harus terus dilakukan,” tambahnya.
Ketua Umum PB PERKENI, Em Yunir, menilai pemahaman masyarakat tentang diabetes masih perlu ditingkatkan. Ia menegaskan bahwa penyakit ini membutuhkan pengelolaan jangka panjang yang disiplin, termasuk perubahan gaya hidup.
Baca Juga: Google Rilis Aplikasi Gemini untuk Mac, Tawarkan Pengalaman AI Desktop Lebih Personal
“Diabetes bukan hanya tentang kadar gula darah, tetapi juga berkaitan dengan risiko komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan secara menyeluruh. Pasien perlu memahami pentingnya pola hidup sehat dan kepatuhan terhadap pengobatan. Edukasi menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan terapi. Dengan pengelolaan yang baik, pasien dapat tetap produktif,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pencegahan harus dimulai sejak dini melalui peningkatan kesadaran terhadap faktor risiko dan pentingnya skrining rutin.
“Pencegahan diabetes harus dimulai sejak dini dengan membangun kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko. Skrining rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi kondisi sejak awal. Dengan intervensi yang tepat, risiko komplikasi dapat diminimalkan secara signifikan. Selain itu, kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan industri sangat diperlukan. Edukasi berkelanjutan akan menjadi fondasi utama dalam pengendalian diabetes di Indonesia,” tutupnya.
dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM., Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indones (NTV: Dedi)