Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Memicu Permusuhan, Didik J. Rachbini Soroti Potongan Video JK

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Apr 2026, 13:35
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Didik J. Rachbini Didik J. Rachbini (Instagram @didikrachbini)

Ntvnews.id, Jakarta - Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini mengecam keras dugaan rekayasa potongan video ceramah Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, yang disampaikan di Masjid Kampus UGM pada 5 Maret 2026 lalu.

Menurutnya, penyebaran video yang dipotong-potong tersebut berpotensi menyesatkan publik, memelintir makna asli ceramah, hingga memicu konflik sosial dan permusuhan antarumat beragama.

Didik menyampaikan bahwa dirinya berada langsung di lokasi sejak awal hingga akhir acara, sehingga mengetahui secara utuh isi ceramah yang disampaikan Jusuf Kalla. Ia menilai potongan video yang beredar telah diubah konteksnya dan justru membalikkan maksud penjelasan sebenarnya.

"Saya pastikan itu adalah rekayasa, yang membalikkan makna penjelasan yang sebenarnya. Saya pastikan penyebaran potongan tersebut adalah narasi dengan anasir jahat dan fitnah yang keji," ucapnya, Minggu, 19 April 2026. 

Didik menyebut penyebaran narasi yang mengarah pada adu domba antaragama jauh lebih berbahaya karena dapat merusak upaya panjang menjaga kerukunan nasional.

Selama ini, masyarakat Indonesia terus membangun kehidupan bersama yang damai, saling menghormati, dan menjunjung toleransi. Namun, narasi sesat yang memecah belah dinilai dapat menghancurkan fondasi tersebut dalam waktu singkat.

Menurut Didik, dalam ceramah tersebut Jusuf Kalla sedang menceritakan pengalaman saat menjadi mediator perdamaian konflik berdarah antara kelompok Islam dan Kristen pada masa lalu.

Jusuf Kalla Soroti Peran BOP dan Dukungan Negara Islam terhadap Palestina <b>(dok)</b> Jusuf Kalla Soroti Peran BOP dan Dukungan Negara Islam terhadap Palestina (dok)

"Saya mendengar semuanya, Jusuf kalla dalam ceramah di mesjid UGM menceritakan bagaimana suasana dan keadaan waktu itu ketika menjadi juru damai dari konflik yang keras dan mematikan satu sama lain antara islam dan Kristen," jelasnya.

Cerita itu menggambarkan situasi keras ketika masing-masing pihak saling menganggap tindakan mereka sebagai perjuangan suci. Namun narasi sejarah tersebut diduga dipotong lalu disebarkan seolah-olah menjadi pernyataan langsung yang mendukung kekerasan.

"Potongan video tersebut akhirnya menjadi narasi sesat dan menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat. Jadi, jelas ada rekayasa, ada maksud dan ada yang melakukannya," terangnya.

Didik menilai pembuat dan penyebar pertama konten hasil manipulasi seperti ini patut diproses secara hukum karena berpotensi memecah belah bangsa. Ia menyebut teknologi modern seperti machine learning dan kecerdasan buatan (AI) dapat membantu menelusuri jejak penyebaran serta jaringan pelaku.

Menurutnya, negara harus hadir menjaga ruang publik dari penyebaran fitnah, hoaks, dan provokasi. Jika dibiarkan, masyarakat bisa menganggap kebiasaan menyebar narasi jahat sebagai hal biasa. Kondisi tersebut berisiko merusak kehidupan sosial, memperkeruh suasana nasional, dan menurunkan kepercayaan publik.

"Atau jika ini dibiarkan akan menimbulkan persepsi bahwa ada wasit yang bermain dan menimbulkan keadaan semakin keruh. Negara harus hadir sebagai penegak sistem kehidupan sosial dan kehidupan berbangsa yang baik," tutup Didik J. Rachbini.

x|close