Pasukan UNIFIL Tewas Lagi di Lebanon, PBB Kecam Serangan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Apr 2026, 09:33
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera PBB. Ilustrasi - Bendera PBB. (ANTARA/Anadolu)

Ntvnews.id, Beirut - Seorang anggota pasukan perdamaian UNIFIL kembali gugur di Lebanon. Korban merupakan tentara asal Prancis yang bertugas dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dilansir dari Reuters, Senin, 20 April 2026, selain satu orang tewas, tiga prajurit lainnya juga mengalami luka-luka, dengan dua di antaranya dalam kondisi serius. Tentara yang tewas diketahui bernama Florian Montorio dari Resimen Insinyur Parasut ke-17.

Dalam pernyataannya, UNIFIL menyebut patroli mereka tengah melakukan pembersihan bahan peledak di sepanjang jalan di desa Ghanduriyah, Lebanon selatan, ketika mereka diserang dengan senjata ringan dari aktor non-negara. Korban meninggal akibat tembakan langsung senjata ringan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras serangan tersebut. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam juga menyampaikan kecaman dan memerintahkan dilakukannya penyelidikan segera.

"Sudah jelas bahwa perilaku tidak bertanggung jawab ini menimbulkan kerusakan serius pada Lebanon dan hubungannya dengan negara-negara sahabat dan pendukungnya di seluruh dunia," ujar Salam.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut mengutuk insiden tersebut dan mendesak semua pihak untuk menghormati penghentian permusuhan dan gencatan senjata.

Baca Juga: Presiden Brasil Lula Kritik Keras Trump, Soroti Ancaman terhadap Kedaulatan dan Desak Reformasi PBB

Berdasarkan temuan awal UNIFIL, tembakan diduga berasal dari aktor non-negara yang dicurigai terkait dengan kelompok Hizbullah. Penyelidikan awal bahkan menyebut serangan tersebut sebagai "serangan yang disengaja."

Macron juga menyatakan bahwa indikasi sementara mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran, serta mendesak otoritas Lebanon untuk menindak pihak yang bertanggung jawab.

Namun, Hizbullah membantah keterlibatan dalam insiden tersebut dan meminta agar penilaian tidak dilakukan secara terburu-buru.

"Hezbollah membantah keterlibatannya dalam insiden yang terjadi dengan pasukan UNIFIL di daerah Ghandouriyeh-Bint Jbeil," demikian pernyataan Hizbullah.

Arsip - Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), 20 Oktober 2025. (ANTARA/Houssam Shbaro/Anadolu/pri.) <b>(Antara)</b> Arsip - Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), 20 Oktober 2025. (ANTARA/Houssam Shbaro/Anadolu/pri.) (Antara)

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan duka cita atas insiden tersebut dan menegaskan bahwa serangan di tengah masa gencatan senjata tidak dapat dibenarkan.

"Pemerintah Indonesia menyampaikan belasungkawa dan simpati yang mendalam kepada Pemerintah dan rakyat Prancis atas gugurnya peacekeepers Prancis dan beberapa lainnya mengalami luka-luka dalam insiden terhadap UNIFIL pada tanggal 18 April 2026," bunyi pernyataan resmi Kemlu RI.

Pemerintah Indonesia juga mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri serta menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter, guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

Baca Juga: Sekjen PBB Desak Lanjutan Negosiasi AS-Iran, Tekankan Tak Ada Solusi Militer

"Serangan yang terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari merupakan hal yang tidak dapat diterima. Seluruh pihak harus menahan diri, menghormati kedaulatan negara dan menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional," ujar Kemlu.

"Negosiasi yang tengah berlangsung dan gencatan senjata harus dihormati sepenuhnya, serta tidak dilanggar dengan tindakan kekerasan yang akan berisiko memperburuk eskalasi dan membahayakan keselamatan personel di lapangan," sambungnya.

x|close