BPOM dan Kemenkes Perkuat Regulasi Juga Inovasi Kesehatan, IGRA Jadi Sorotan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Apr 2026, 12:25
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus (kiri) dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar di Jakarta, Kamis (16/4/2026). ANTARA/HO - BPOM/pri. Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus (kiri) dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar di Jakarta, Kamis (16/4/2026). ANTARA/HO - BPOM/pri. (Antara)

Ntvnews.id , Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan pentingnya penguatan regulasi, percepatan inovasi di sektor kesehatan, serta pengembangan produk dalam negeri, termasuk Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) sebagai metode deteksi tuberkulosis.

Mengacu pada data Kementerian Kesehatan, beban penyakit Tuberkulosis (TBC) di Indonesia masih tergolong tinggi.

Dalam satu tahun terakhir, tercatat sekitar 867 ribu kasus telah terdiagnosis.

“Kalau kita bisa bikin harga tes IGRA dari 1 juta menjadi hanya sekitar 50 ribu, dampaknya terhadap keuangan negara akan sangat besar,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus di Jakarta, Selasa 21 April 2026.

Baca Juga: Hashim Soroti Tingginya Kasus TBC di Indonesia, Kaitkan dengan Kondisi Permukiman

Ia menekankan bahwa efisiensi dalam pengembangan teknologi kesehatan sangat penting, khususnya pada sektor diagnostik seperti IGRA, yaitu tes berbasis darah untuk mendeteksi infeksi TBC.

Selain itu, ia juga menyoroti perlunya pengawasan dan dukungan lintas sektor terhadap berbagai inovasi yang tengah dikembangkan.

“Saya minta tolong nanti kita kawal bersama supaya tes IGRA ini mendapatkan atensi karena ini sangat penting untuk percepatan penanggulangan TBC di Indonesia,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kesehatan juga menilai proses di BPOM kini semakin cepat dan responsif.

Hal tersebut turut diamini oleh perwakilan industri, termasuk Bio Farma, yang menyebutkan bahwa proses yang sebelumnya sempat mengalami hambatan kini berjalan lebih lancar.

Selain fokus pada diagnostik, BPOM juga mendorong pengembangan obat berbasis bahan alam sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional melalui pendekatan riset dan hilirisasi.

Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar menilai potensi bahan alam Indonesia sangat besar dan masih dapat terus dikembangkan.

"Kalau negara punya produk sendiri, kenapa kita tidak memanfaatkannya? Dengan sumber daya yang kita miliki, seharusnya Indonesia bisa menghasilkan solusi kesehatan sendiri," ujar Taruna.

Baca Juga: Sri Mulyani Gelontorkan Rp244 T untuk Anggaran Kesehatan di 2026, Fokus Stunting, TBC Hingga Cek Kesehatan Gratis

Ia menambahkan bahwa peningkatan nilai tambah menjadi faktor penting dalam memperkuat industri farmasi nasional, mengingat potensi ekonomi bahan alam Indonesia yang diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.

“Kita ingin naikkan statusnya, bukan sekadar obat bahan alam atau obat herbal terstandar, tetapi menjadi produk farmasi yang bernilai lebih tinggi,” katanya..

Dari sekitar 40.000 spesies tumbuhan di dunia, sekitar 31.000 di antaranya disebut berada di Indonesia dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal.

Dalam hal ini, BPOM memiliki peran penting untuk memastikan setiap inovasi yang dikembangkan memenuhi standar keamanan, khasiat, serta mutu sebelum dapat digunakan secara luas oleh masyarakat.

( Sumber: Antara )

x|close