Ntvnews.id,Washington D.C. - Amerika Serikat mengerahkan tiga kapal induk ke kawasan Timur Tengah yang mengelilingi Iran dari berbagai arah. Tiga armada tersebut adalah USS George H. W. Bush, USS Abraham Lincoln, dan USS Gerald R. Ford.
Dilansir dari AFP, Senin, 27 April 2026, Kapal induk terbaru yang tiba di kawasan itu adalah USS George H. W. Bush. Kapal kelas Nimitz tersebut dilaporkan tiba pada Kamis, 23 April 2026.
CENTCOM menyatakan bahwa USS George H. W. Bush telah resmi memasuki wilayah operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Dalam unggahannya, CENTCOM juga menampilkan gambar dek kapal yang dipenuhi pesawat tempur.
Sementara itu, USS Gerald R. Ford saat ini beroperasi di Laut Merah, dan USS Abraham Lincoln berada di sekitar kawasan yang sama.
Pengerahan ini disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam dua dekade terakhir, terjadi di tengah belum pastinya akhir konflik Iran serta sikap Presiden Donald Trump yang tidak menetapkan tenggat waktu penyelesaian perang.
Baca Juga: Perangi AS, Iran Klaim Belum Pakai Kekuatan Rudalnya Semua
Seorang pejabat AS menyebutkan bahwa Washington kini juga menempatkan 19 kapal perang lain di kawasan Timur Tengah serta tujuh kapal tambahan di Samudra Hindia. Jumlah tersebut belum termasuk USS George H. W. Bush beserta kapal pengawalnya.
Apabila kehadiran USS Bush merupakan tambahan baru, bukan bagian dari rotasi, maka pengerahan ini menjadi salah satu konsentrasi kekuatan laut terbesar sejak invasi Irak pada 2003.
Di sisi lain, Trump pada Kamis, 23 April 2026 juga memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menghancurkan kapal-kapal yang menebar ranjau di Selat Hormuz.
Ilustrasi - Bendera Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)
"Tembak dan hancurkan kapal apa pun, meskipun kapal kecil (Semua kapal angkatan laut mereka, 159 di antaranya, berada di dasar laut!), yang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz" tulisnya melalui platform Truth Social.
"Tidak boleh ada keraguan. Selain itu, kapal penyapu ranjau kita sedang membersihkan Selat saat ini. Dengan ini saya memerintahkan aktivitas tersebut untuk dilanjutkan, tetapi dengan tiga kali lipat!" tulisnya.
Langkah ini kembali menegaskan ketegangan yang terus meningkat di kawasan, terutama setelah Iran tetap menutup Selat Hormuz dan menolak melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat di Pakistan.
Kapal Induk AS (Istimewa)