Ntvnews.id, Jakarta - Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan untuk mengakhiri keanggotaannya di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) setelah lebih dari lima dekade bergabung. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 Mei mendatang.
Pengumuman ini muncul bertepatan dengan agenda pertemuan OPEC di Wina yang akan digelar pada Rabu, 29 April 2026. Tidak hanya keluar dari OPEC, UEA juga menyatakan akan meninggalkan aliansi OPEC+.
Dalam pernyataan resminya, kantor berita negara UEA, Wam, menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.
"Keputusan ini diambil setelah peninjauan komprehensif terhadap kebijakan produksi UEA serta kapasitas saat ini dan masa depan, dan didasarkan pada kepentingan nasional kami serta komitmen untuk berkontribusi secara efektif dalam memenuhi kebutuhan pasar yang mendesak," demikian pernyataan kantor berita negara UEA, Wam, dikutip dari laman The National News, Selasa, 28 April 2026.
Lebih lanjut, Wam menyoroti kondisi pasar energi global yang masih bergejolak.
Meski volatilitas jangka pendek, termasuk gangguan di Teluk Arab dan Selat Hormuz, masih memengaruhi dinamika pasokan, tren yang mendasari menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan dalam permintaan energi global dalam jangka menengah hingga panjang."
Wam menyebut keputusan ini "mencerminkan evolusi berbasis kebijakan dalam pendekatan UEA, meningkatkan fleksibilitas untuk merespons dinamika pasar sekaligus tetap berkontribusi terhadap stabilitas secara terukur dan bertanggung jawab".
Langkah ini diambil di tengah upaya besar UEA untuk mengurangi ketergantungan pada sektor migas. Saat ini, sektor non-minyak disebut telah menyumbang sekitar 75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.
Meski keluar dari OPEC, UEA tetap berencana meningkatkan kapasitas produksinya. Negara itu menargetkan kenaikan produksi dari 3,4 juta barel per hari menjadi 5 juta barel per hari pada 2027.
Dalam pernyataan yang sama, UEA juga menyampaikan apresiasi kepada OPEC dan aliansinya.
"Kami menegaskan kembali apresiasi kami atas upaya OPEC dan aliansi OPEC+ serta mendoakan kesuksesan bagi mereka," lanjut pernyataan Wam.
Selain itu, UEA menilai telah memberikan kontribusi besar selama menjadi bagian dari organisasi tersebut.
"Selama menjadi bagian dari organisasi ini, kami telah memberikan kontribusi signifikan dan bahkan pengorbanan yang lebih besar demi kepentingan bersama. Namun, saat ini adalah waktu yang tepat untuk memfokuskan upaya kami pada apa yang menjadi kepentingan nasional serta komitmen kami kepada investor, pelanggan, mitra, dan pasar energi global. Inilah yang akan menjadi fokus kami ke depan," tutup mereka.
Dampak perang terhadap minyak
Di sisi lain, konflik yang melibatkan Iran turut memberikan dampak besar terhadap produksi minyak global. Pada Maret, produksi OPEC tercatat turun drastis hingga 7,88 juta barel per hari, menjadi penurunan terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Secara keseluruhan, produksi OPEC anjlok 27 persen menjadi 20,79 juta barel per hari.
Penurunan tersebut bahkan melampaui kondisi saat pandemi Covid-19 pada Mei 2020, ketika produksi berkurang 6,28 juta barel per hari akibat anjloknya permintaan global. Dampak kali ini juga disebut lebih besar dibandingkan krisis minyak tahun 1970-an maupun Perang Teluk 1991.
UEA sendiri merupakan salah satu anggota pendiri OPEC yang telah bergabung sejak 1967, bahkan sebelum negara tersebut resmi berdiri. Bersama Arab Saudi dan Kuwait, UEA menjadi bagian penting dari suplai minyak kawasan Timur Tengah yang menyumbang sekitar 30 persen produksi global.
Keputusan ini juga menyusul langkah Qatar yang lebih dulu keluar dari OPEC pada 2019, dengan alasan fokus sebagai produsen gas membuat keanggotaannya tidak lagi relevan. Sementara itu, Bahrain dan Oman memang tidak tergabung dalam OPEC, namun tetap sejalan dengan kebijakan pengelolaan pasokan yang diterapkan kelompok tersebut.
OPEC. (Bloomberg)