DPR Minta Dirut KAI Mundur, Bukan Cuma Salahkan Operator Lapangan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Apr 2026, 22:25
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Dirut KAI Dirut KAI (Ntvnews.id/Adiansyah)

Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meminta Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero), Bobby Rasyidin mundur. Ini buntut peristiwa kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur yang menewaskan 16 orang. 

"Ada pertanyaan mendasar soal efektivitas pengawasan, kesiapan sistem keselamatan, dan standar operasional. Kami mendesak Dirut KAI untuk mundur," ujar Anggota Komisi VI DPR Firnando Ganinduto, Rabu, 29 April 2026.

Firnando menilai, insiden tersebut bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan rapuhnya sistem keselamatan kereta.

Dirinya memandang kecelakaan itu sebagai kegagalan sistemik. Sebab, dalam sistem perkeretaapian modern, berbagai teknologi seperti sinyal otomatis hingga sistem perlindungan kereta seharusnya mampu mencegah kejadian serupa.

"Kalau sistemnya berjalan optimal, tabrakan seperti ini bisa dihindari. Ini menunjukkan ada celah serius dalam integrasi teknologi dan pengawasan operasional," kata dia.

Menurut Firnando, ketidakmampuan sistem mendeteksi keberadaan rangkaian kereta di jalur yang sama menjadi sebuah peringatan keras. Baginya, tanggung jawab tidak bisa berhenti di level operator lapangan, tapi juga harus ditarik hingga ke pucuk manajemen.

Desakan Firnando muncul usai publik menyoroti lemahnya manajemen keselamatan. Ia berpandangan, selama ini aspek keselamatan kerap diperlakukan sebagai formalitas administratif.

Tapi diperlukan juga sistem yang benar-benar hidup dalam setiap lini operasional untuk menjamin keselamatan.

Selain meminta Bobby mundur, Firnando juga mendorong audit menyeluruh terhadap manajemen operasional KAI. Mulai dari sistem komunikasi antarstasiun, prosedur darurat, hingga keandalan teknologi pengendali perjalanan kereta harus dievaluasi total. Transparansi investigasi juga dinilai krusial untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.

Diketahui, kecelakaan kereta di Bekasi terjadi akibat adanya taksi Green SM yang terhenti di tengah rel kereta api, tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 malam. Taksi tersebut lalu tertemper KRL yang melaju dari Cikarang ke arah Jakarta.

KRL yang terlibat kecelakaan dengan taksi lantas terhenti di tengah rel. Warga pun berkumpul untuk membantu evakuasi taksi itu.

Di sisi lain, ada KRL arah Cikarang yang terhenti lebih lama di Stasiun Bekasi Timur akibat insiden antara KRL arah Jakarta dan taksi Green SM. KRL yang terhenti di Stasiun Bekasi Timur itu yang akhirnya ditabrak KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Jakarta. Akibat kecelakaan itu, 16 orang tewas dan 76 lainnya luka-luka.

 

x|close