Ntvnews.id, Jakarta - Toyota Motor Corp. mencatat penurunan penjualan global sebesar 7,2 persen pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Seperti dilaporkan Kyodonews, Senin (29/6/2026), total penjualan mencapai 834.279 unit, sekaligus menjadi penurunan selama empat bulan berturut-turut.
Melemahnya permintaan di China menjadi faktor utama penurunan tersebut. Kondisi pasar otomotif di Negeri Tirai Bambu masih tertekan di tengah persaingan yang semakin ketat dan perlambatan ekonomi.
Selain itu, ekspor Toyota dari Jepang ke kawasan Timur Tengah juga merosot tajam hingga 65,9 persen menjadi 7.323 unit.
Penurunan ini merupakan yang ketiga secara berturut-turut dan diduga dipengaruhi gangguan rantai pasok serta logistik akibat konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Di sisi produksi, Toyota membukukan produksi global sebanyak 765.470 unit pada Mei, turun 5,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadi penurunan pertama dalam tiga bulan terakhir.
Penjualan Toyota di pasar luar negeri turun 9,6 persen menjadi 715.898 unit. China mencatat penurunan paling tajam, yakni 31,7 persen menjadi 102.299 kendaraan akibat kondisi pasar yang masih lesu.
Baca Juga: Gaikindo Apresiasi Komitmen Pemerintah Jaga Pertumbuhan Industri Otomotif Indonesia
Sementara itu, penjualan di Amerika Serikat (AS) relatif stabil dengan penurunan tipis 0,6 persen menjadi 238.800 unit.
Permintaan kendaraan hybrid tetap kuat dan membantu menjaga kinerja penjualan. Di Timur Tengah, penjualan turun 38,6 persen menjadi 29.568 unit.
Di tengah pelemahan pasar global, Toyota justru mencatat pertumbuhan di pasar domestik Jepang. Penjualan naik 11,1 persen menjadi 118.381 unit, didorong tingginya permintaan terhadap model baru seperti SUV RAV4 dan mobil listrik bZ4X.
Kinerja positif juga terlihat di India. Penjualan meningkat 15,3 persen menjadi 30.227 unit setelah adanya kebijakan pemotongan pajak kendaraan bermotor yang mendorong permintaan konsumen.
Untuk produksi di luar Jepang, Toyota membukukan penurunan 9,4 persen menjadi 514.882 unit. Berkurangnya hari operasional pabrik di Amerika Utara dan Eropa menjadi salah satu penyebab utama.
Sementara itu, produksi di China juga turun signifikan sebesar 23 persen menjadi 98.536 unit. Berbeda dengan kondisi di luar negeri, produksi domestik Toyota meningkat 3,7 persen menjadi 250.588 unit.
Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam tujuh bulan terakhir dan ditopang oleh peluncuran sejumlah model baru.
SUV Toyota RAV4. (Foto: Reuters)