Ntvnews.id, Jakarta - Hilal, atau bulan sabit pertama, memiliki peran penting dalam penentuan awal bulan dalam kalender Hijriyah. Kemunculannya menjadi penanda dimulainya bulan baru bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun, apa sebenarnya hilal itu, dan bagaimana sejarah penetapannya?
Simak penjelasannya berikut ini, dihimpun dari berbagai sumbe, Kamis, 27 Februari 2025.
Pengertian Hilal
Secara astronomis, hilal adalah penampakan bulan sabit tipis yang pertama kali terlihat setelah terjadinya konjungsi atau ijtimak, yaitu posisi di mana bulan berada di antara bumi dan matahari dalam satu garis lurus.
Penampakan hilal ini terjadi sesaat setelah matahari terbenam dan menandai dimulainya bulan baru dalam kalender Islam.
Sejarah Penetapan Hilal
Penetapan awal bulan berdasarkan pengamatan hilal telah dilakukan sejak masa Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA, Nabi bersabda:
"Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika terhalang, maka genapkanlah (istikmal) menjadi tiga puluh hari." (HR. Bukhari)
Hal ini menunjukkan bahwa pengamatan langsung terhadap hilal menjadi dasar dalam penentuan awal bulan.
Baca juga: Serbu! Ancol Gratiskan Tiket Masuk untuk Ngabuburit Selama Ramadhan
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, metode hisab atau perhitungan astronomis mulai digunakan untuk memperkirakan posisi bulan. Meskipun demikian, beberapa ulama dan organisasi Islam tetap mengedepankan rukyat, yaitu pengamatan langsung, sebagai metode utama.
Di Indonesia, perbedaan antara metode hisab dan rukyat seringkali menimbulkan perbedaan dalam penetapan awal bulan, seperti awal Ramadhan dan Idul Fitri.
Metode Penetapan Hilal di Indonesia
Di Indonesia, terdapat beberapa metode yang digunakan dalam penetapan hilal:
-
Rukyatul Hilal: Pengamatan langsung terhadap hilal. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari.
-
Hisab: Perhitungan astronomis untuk menentukan posisi bulan.
-
Imkanur Rukyat: Kombinasi antara hisab dan rukyat, dengan mempertimbangkan kemungkinan visibility hilal berdasarkan kriteria tertentu.
Perbedaan metode ini seringkali menyebabkan perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriyah di Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami dasar-dasar dari masing-masing metode dan menghormati perbedaan yang ada.
Pemahaman yang baik tentang hilal dan sejarah penetapannya dapat membantu kita lebih bijak dalam menyikapi perbedaan dan menjaga keharmonisan dalam menjalankan ibadah.