Ntvnews.id, Taheran - Pemerintah Iran merespons keras pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan bertindak terkait gelombang unjuk rasa di negara tersebut. Trump menegaskan AS “siap bertindak” untuk “datang menyelamatkan” para demonstran Iran yang memprotes kesulitan ekonomi. Teheran menilai pernyataan itu sebagai bentuk intervensi asing.
Dilansir dari Anadolu, Minggu, 4 Januari 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam ancaman Trump sebagai pernyataan yang “ceroboh dan berbahaya”.
"Pesan Trump hari ini, kemungkinan dipengaruhi oleh pihak-pihak yang takut akan diplomasi atau secara keliru meyakini bahwa diplomasi tidak diperlukan, adalah ceroboh dan berbahaya," ujar Araghchi melalui pernyataan di media sosial X.
Araghchi menegaskan bahwa unjuk rasa yang berlangsung di Teheran dan sejumlah kota lain pada umumnya berjalan damai. Ia juga menyinggung langkah Trump sebelumnya yang mengerahkan pasukan Garda Nasional AS untuk menghadapi demonstrasi di sejumlah kota besar di Amerika Serikat.
Baca Juga: Bentrokan Saat Demonstrasi di Iran, 3 Orang Dilaporkan Tewas
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa rakyat Iran tidak akan membiarkan campur tangan pihak asing dan akan menyelesaikan persoalan domestik mereka “melalui dialog dan keterlibatan”.
"Cukup dengan meninjau catatan panjang tindakan para politisi Amerika yang dilakukan atas nama 'menyelamatkan rakyat Iran' untuk memahami kedalaman apa yang disebut sebagai 'empati' Amerika terhadap bangsa Iran," kata Baghaei.
Baghaei mengingatkan berbagai peristiwa masa lalu, mulai dari kudeta terhadap mantan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh pada 1953, penembakan jatuh pesawat sipil Iran pada 1988, dukungan AS terhadap Saddam Hussein dalam perang Iran-Irak, hingga dukungan Washington kepada Israel dalam serangan terhadap Iran tahun lalu.
"Dan hari ini, sekali lagi, ada ancaman serangan terhadap Iran dengan dalih kepedulian terhadap rakyat Iran, yang secara terang-terangan melanggar prinsip paling mendasar dari hukum internasional," tegasnya.
Arsip foto - Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (ANTARA/Anadolu) (Antara)
Ancaman Trump disampaikan pada Juma, 2 Januari 2026 waktu setempat, ketika ia menyatakan AS akan “datang menyelamatkan” para demonstran Iran yang turun ke jalan dalam beberapa hari terakhir akibat memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai mata uang rial.
"Jika Iran menembak dan membunuh demonstran, yang beraksi damai, secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. Kami siap siaga dan siap bertindak," ujar Trump.
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan kantor berita semi-resmi Fars dan kelompok HAM Hengaw menyebut adanya korban jiwa dalam bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan Iran. Sedikitnya dua orang dilaporkan tewas di Lordegan, tiga orang di Azna, dan satu orang di Kouhdasht, meski tidak dirinci apakah korban merupakan demonstran atau aparat keamanan.
Video yang beredar di media sosial juga menunjukkan mobil-mobil dibakar dalam kericuhan antara demonstran dan aparat keamanan. Aksi protes ini bermula pekan lalu di Grand Bazaar Teheran sebelum meluas ke wilayah lain, dipicu kemarahan pedagang dan pemilik usaha kecil atas kondisi ekonomi yang tidak stabil. Di sejumlah daerah, unjuk rasa berkembang menjadi aksi kekerasan.
Baca Juga: AHY: Rumah Korban Bencana di Sumatera Harus Dirancang Lebih Tahan Risiko
Otoritas Iran menuding adanya “kekuatan eksternal” yang menghasut demonstran damai untuk melakukan tindakan anarkistis. Kecaman terhadap ancaman Trump juga disampaikan penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Ali Shamkhani.
"Setiap campur tangan yang menyerang keamanan Iran dengan dalih apa pun akan dihadapkan pada respons-respons. Keamanan nasional Iran adalah garis merah (red line), bukan bahan untuk cuitan adventurisme," tegas Shamkhani.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ari Larijani turut memperingatkan bahwa intervensi AS akan memicu ketidakstabilan kawasan Timur Tengah dan merugikan kepentingan Washington sendiri.
"Trump harus mengetahui bahwa campur tangan Amerika dalam masalah internal ini akan sama saja mengganggu stabilitas seluruh kawasan dan merugikan kepentingan Amerika," ujar Larijani.
Pendemo Iran mengibarkan bendera Iran dan Palestina dalam aksi anti-Israel di Tehran. (AP News)