Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Federal Swiss pada Senin 5 Januari 2026 mengumumkan pembekuan seluruh aset yang terkait dengan Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang ditangkap Amerika Serikat (AS) di Caracas pada Sabtu 3 Januari 2026.
“Dewan Federal hendak memastikan aset apapun yang diperoleh secara ilegal tak akan bisa ditransfer keluar dari Swiss dalam kondisi saat ini,” ujar dewan tersebut dalam pernyataan resminya.
“Menurut UU Federal tentang Pembekuan dan Restitusi Aset Ilegal yang Dikuasai Orang yang Terpapar Politik Asing (FIAA), dengan ini diputuskan, sebagai langkah pencegahan, untuk membekukan semua aset di Swiss yang dikuasai Maduro dan orang-orang lain yang terasosiasi dengannya,” lanjut badan itu.
Dewan Federal Swiss menegaskan bahwa pembekuan aset ini tidak berdampak pada anggota pemerintahan lain di Venezuela dan merupakan tambahan dari sanksi terhadap Venezuela yang telah berlaku sejak 2018 berdasarkan UU Embargo.
“Pembekuan aset terbaru ini mengincar individu yang belum disanksi Swiss,” kata Dewan Federal Swiss.
Badan tersebut menekankan bahwa pembekuan aset tidak terkait dengan “alasan di belakang jatuhnya Maduro dari kekuasaan” dan “tidak pula mempertanyakan apakah kejatuhan dari kekuasaan tersebut berlangsung sesuai atau tidak sesuai dengan hukum internasional.” Faktor penentu adalah “kejatuhan dari kekuasaan telah terjadi” dan “ada kemungkinan bahwa negara asal akan melakukan langkah hukum di masa mendatang terkait aset yang diperoleh secara ilegal.”
Baca Juga: Sidang Perdana Maduro di New York: Saya Tidak Bersalah, Saya Masih Presiden
“Apabila proses hukum di masa mendatang mengungkapkan bahwa dana tersebut diperoleh secara ilegal, Swiss akan berupaya memastikan dana tersebut akan bermanfaat bagi rakyat Venezuela,” demikian bunyi pernyataan Dewan Federal Swiss.
Pembekuan aset ini berlaku serta-merta sejak Senin dan akan tetap berlaku selama empat tahun hingga ada keputusan selanjutnya.
Sebelumnya, pada Sabtu 3 Januari 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan operasi militer berskala besar terhadap Venezuela yang berujung pada penangkapan Maduro beserta istrinya. Trump berjanji menegaskan kendali AS atas Venezuela untuk sementara waktu, termasuk dengan pengerahan pasukan militer jika diperlukan.
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, tiba di New York pada Sabtu malam dan ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn. Keduanya menghadapi dakwaan federal di AS terkait perdagangan narkoba serta dugaan kerja sama dengan kelompok kriminal yang ditetapkan sebagai organisasi teroris. Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut.
Sementara itu, sejumlah pejabat di ibu kota Venezuela, Caracas, menyerukan pembebasan pasangan tersebut.
(Sumber : Antara)
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (ketiga kanan) dikawal pasukan setibanya di Heliport Downtown Manhattan dalam perjalanan menuju Gedung Pengadilan Daniel Patrick Manhattan, Amerika Serikat, Senin 5 Januari 2026. ANTARA FOTO/REUTERS/Eduardo Munoz/nym. (Antara)