Warga Venezuela di AS Rayakan Penangkapan Maduro dengan Menari dan Bernyanyi di Jalanan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Jan 2026, 13:15
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Massa merayakan di Doral, Florida, setelah penangkapan presiden Venezuela. CNN Massa merayakan di Doral, Florida, setelah penangkapan presiden Venezuela. CNN (CNN)

Ntvnews.id, Washington - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat memunculkan reaksi yang bertolak belakang antara diaspora Venezuela di Amerika Serikat dan warga di dalam negeri. Kabar penangkapan Maduro dan istrinya yang menyebar pada Sabtu pagi, 3 Januari 2026, disambut perayaan terbuka di Florida Selatan, sementara di Caracas suasana justru diwarnai kecemasan dan ketidakpastian.

Di pusat komunitas Venezuela di Florida Selatan, ribuan kilometer dari Caracas, para demonstran berkumpul di jalanan, bernyanyi, menari, serta mengibarkan bendera Venezuela berwarna kuning, biru, dan merah. Mereka meneriakkan seruan kebebasan dan meluapkan emosi, termasuk air mata kebahagiaan, atas penangkapan pemimpin yang selama bertahun-tahun mereka anggap simbol represi.

Perayaan paling menonjol terjadi di Doral, sebuah kota sekitar 24 kilometer di sebelah barat Miami yang dikenal sebagai kawasan dengan populasi imigran Venezuela terbesar di Amerika Serikat dan kerap dijuluki “Doralzuela”. Kerumunan mulai berkumpul sejak dini hari, menyanyikan lagu kebangsaan Venezuela dan membawa spanduk bertuliskan “Jadikan Venezuela Hebat Lagi”.

Pusat perayaan berlangsung di sekitar El Arepazo, sebuah restoran arepa yang telah lama menjadi titik temu warga Venezuela yang meninggalkan tanah air mereka akibat tekanan politik dan kesulitan ekonomi.

Baca Juga: Tangan Diborgol, Ini Penampakan Nicolás Maduro Saat Tiba di New York

Kerumunan merayakan di sebuah stasiun bensin di Doral, Florida, Sabtu, 3 Januari 2025, setelah penangkapan presiden Venezuela. CNN <b>(CNN)</b> Kerumunan merayakan di sebuah stasiun bensin di Doral, Florida, Sabtu, 3 Januari 2025, setelah penangkapan presiden Venezuela. CNN (CNN)

“Keadilan sedang ditegakkan bagi semua warga Venezuela yang meninggalkan negara kita,” kata Kirvin Suarez kepada Reuters di luar restoran tersebut.

Di sejumlah kota lain di Amerika Serikat, termasuk Boston dan Minneapolis, reaksi yang muncul justru berbeda. Para demonstran anti-perang turun ke jalan untuk menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap potensi pertumpahan darah akibat operasi militer Presiden Donald Trump. Beberapa membawa spanduk bertuliskan, “Tidak ada perang untuk minyak.”

Sementara itu di Venezuela, suasana jauh lebih sunyi. Rekaman dari Caracas menunjukkan jalan-jalan utama dan jalan tol relatif kosong. Warga tampak mengantre panjang di supermarket dan apotek untuk memenuhi kebutuhan pokok, mencerminkan kekhawatiran atas masa depan negara mereka di tengah situasi yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai contoh terbaru diplomasi kapal perang Amerika Serikat.

Selama lebih dari seperempat abad, jutaan warga Venezuela telah meninggalkan negaranya sejak gerakan Chavismo mengakar kuat di pemerintahan. Banyak yang bermigrasi ke Amerika Serikat dan negara lain dalam beberapa tahun terakhir, sementara sebagian lainnya telah meninggalkan Venezuela lebih dari dua dekade lalu. Dalam beberapa bulan terakhir, mereka mengikuti dengan cemas meningkatnya ketegangan antara Venezuela yang kaya minyak dan Amerika Serikat, termasuk latihan militer di Karibia dan serangan udara terhadap kapal-kapal Venezuela.

“Kami takut tapi tetap berharap,” kata Marisela Lara, seorang warga Venezuela-Amerika yang tinggal di Miami. “Malam kemarin mungkin menjadi awal dari akhir mimpi buruk selama 30 tahun.”

Baca Juga: Serangan AS Ke Venezuela Tewaskan Sedikitnya 45 Orang

“Ada terlalu banyak ketidakpastian,” kata Daniel Castillo, seorang warga Venezuela-Amerika yang tinggal di Kota New York.

Peneliti senior Amerika Latin di lembaga think tank Inter-American Dialogue, Michael Shifter, menilai warga Venezuela di dalam negeri menghadapi risiko yang jauh lebih besar dibanding diaspora di luar negeri.

“Mereka harus menghadapi konsekuensi dari apa yang terjadi,” katanya kepada CNN pada Sabtu, 3 Januari 2026.

“Mereka mungkin lega bahwa Maduro tidak lagi berkuasa. Namun, mereka tentu tidak yakin bahwa apa yang akan datang selanjutnya akan lebih baik.”

Menurut Shifter, kecemasan semakin meningkat setelah Presiden Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan “mengendalikan negara” hingga proses transisi kekuasaan dinilai siap dilakukan.

Baca Juga: Wapres Venzuela Tegaskan Maduro Tetap Presiden Usai Ditangkap AS

“Mereka tidak yakin bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya akan berjalan tertib dan lancar serta akan mengurangi penderitaan mereka,” ujarnya.

Di pusat kota Caracas, bau mesiu dari operasi militer kilat Amerika Serikat masih tercium pada Sabtu pagi. Sebagian kecil warga berani keluar rumah untuk mencari kebutuhan pokok, namun sebagian besar toko dan tempat usaha memilih tutup.

“Saya melihat suasana yang agak mirip perang. Keheningan bisa berbicara banyak hal,” kata seorang sopir dari wilayah timur Caracas kepada CNN, yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.

Sebagian penentang Maduro memilih merayakan kepergiannya secara diam-diam dengan memutar musik dari balkon rumah, tampaknya khawatir akan adanya pembalasan jika turun ke jalan. Di sisi lain, kelompok pendukung Maduro terlihat berkumpul di sekitar istana kepresidenan sebagai bentuk solidaritas.

“Kami meminta pembebasan presiden kami,” kata Maria Ayde kepada Reuters. “Kami akan tetap di sini berjuang hingga mereka mengembalikan Nicolas kepada kami.”

HIGHLIGHT

x|close