Trump Buka Peluang Luncurkan Serangan Gelombang Kedua ke Venezuela

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Jan 2026, 20:45
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/py. (ANTARA/Anadolu/py/pri) Ilustrasi Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/py. (ANTARA/Anadolu/py/pri) (Antara)

Ntvnews.id, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington tidak menutup kemungkinan melancarkan gelombang serangan kedua terhadap Venezuela, menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro dalam operasi militer AS, Sabtu, 3 Januari 2026.

Dalam wawancaranya dengan Fox News, Trump menegaskan pemerintahannya telah menyiapkan skenario lanjutan jika situasi berkembang ke arah yang dianggap mengancam kepentingan Amerika Serikat.

“Kami siap. Anda tahu, kami siap melakukan gelombang kedua. Semuanya sudah disiapkan. Operasi ini begitu kuat sehingga kami tidak perlu melakukannya, tetapi kami tetap siap,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa kekuatan militer AS berada dalam posisi siaga penuh.

Trump juga menegaskan bahwa Washington mengerahkan kekuatan laut besar di kawasan tersebut.

“Kami berada di luar sana dengan armada seperti yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya, dan kami siap,” katanya.

Baca Juga: AS Kerahkan 150 Pesawat dari 20 Pangkalan untuk Operasi Penangkapan Maduro

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump mengumumkan bahwa Maduro telah ditangkap dan dikeluarkan dari Venezuela dalam operasi yang, menurutnya, dilakukan dengan presisi tinggi dan tanpa korban di pihak AS. Klaim ini memicu kebingungan dan reaksi keras dari Caracas, di mana otoritas Venezuela menyatakan belum mengetahui secara pasti keberadaan Maduro dan menuntut klarifikasi mengenai kondisinya.

Kementerian Luar Negeri Venezuela mengumumkan rencananya untuk mengajukan banding ke organisasi internasional atas tindakan Washington dan mendesak Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat terkait serangan AS ke Venezuela.

Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menegaskan bahwa Presiden Nicolas Maduro tetap menjadi satu-satunya pemimpin negara tersebut.

"Hanya ada satu presiden di negara ini, namanya Nicolas Maduro Moros," kata Rodriguez pada pertemuan Dewan Pertahanan menyusul operasi yang dilancarkan AS.

Baca Juga: Wapres Venezuela Tegaskan Siap Pertahankan Negara dan Sumber Daya Alam Usai Serangan AS

Sejumlah media internasional sebelumnya melaporkan adanya ledakan di Caracas dan menyebut operasi itu melibatkan pasukan elite Amerika Serikat, meski belum ada konfirmasi independen.

Di Washington, sejumlah anggota Kongres mempertanyakan dasar hukum operasi tersebut dan memperingatkan risiko eskalasi militer yang lebih luas di kawasan Amerika Latin. Pemerintah AS menyatakan bahwa Maduro akan menghadapi proses hukum.

Di tingkat internasional, beberapa negara dan organisasi menyerukan penahanan diri dan menekankan pentingnya menghormati kedaulatan negara serta hukum internasional, di tengah kekhawatiran bahwa ancaman gelombang serangan lanjutan dapat memperburuk instabilitas regional dan memicu konfrontasi yang lebih luas.

(Sumber: Antara) 

HIGHLIGHT

x|close