Terbelahnya Warga Venezuela Usai Penangkapan Maduro oleh AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Jan 2026, 22:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kerumunan merayakan di sebuah stasiun bensin di Doral, Florida, Sabtu, 3 Januari 2025, setelah penangkapan presiden Venezuela. CNN Kerumunan merayakan di sebuah stasiun bensin di Doral, Florida, Sabtu, 3 Januari 2025, setelah penangkapan presiden Venezuela. CNN (CNN)

Ntvnews.id, Caracas - Warga Venezuela yang tersebar di sejumlah negara menunjukkan respons yang berlawanan, mulai dari kecaman hingga dukungan, menyusul operasi militer Amerika Serikat (AS) yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, ditangkap di kediaman mereka pada Sabtu dini hari. Keduanya kemudian diterbangkan keluar dari Venezuela dan ditempatkan di kapal perang AS yang berlayar menuju Amerika Serikat untuk menghadapi proses peradilan pidana di New York.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan “mengelola” Venezuela hingga terbentuk pemerintahan baru. Ia juga menegaskan AS akan memperoleh kompensasi biaya dari cadangan minyak Venezuela.

Di Mexico City, kelompok demonstran anti-Maduro merayakan apa yang mereka sebut sebagai berakhirnya pemerintahan narkoba di Venezuela. Gloria Sosa, warga Venezuela yang telah bermukim selama 18 tahun di Meksiko, mengaku merasakan kelegaan dan kebahagiaan.

“Pemerintahan narkoba sudah berakhir. Kami merasa bahagia dan damai,” ujarnya, dikutip dari ABC News, Minggu, 4 Januari 2026.

Baca Juga: Operasi AS di Venezuela Sudah Direncanakan Berbulan-bulan Sebelumnya

Maduro, yang telah didakwa di Amerika Serikat atas sejumlah tuduhan, termasuk konspirasi narkoterorisme, dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan federal Manhattan pada Senin, menurut pejabat Departemen Kehakiman AS.

Perayaan serupa juga terjadi di Buenos Aires dan Bogota. Di ibu kota Argentina, warga Venezuela tampak bersorak, saling berpelukan di jalan utama, sambil mengibarkan bendera nasional Venezuela.

Sementara itu, di Lima, puluhan warga Venezuela berkumpul dengan menyelimuti diri menggunakan bendera negara mereka untuk menandai lengsernya Maduro. Milagros Ortega, migran Venezuela di Lima yang orang tuanya masih tinggal di tanah air, berharap dapat segera kembali ke Venezuela.

“Mengetahui ayah saya masih hidup untuk menyaksikan kejatuhan Nicolás Maduro sangat mengharukan. Saya ingin melihat ekspresinya,” katanya.

AS Lancarkan Agresi Militer ke Venezuela <b>(X The Tradesman)</b> AS Lancarkan Agresi Militer ke Venezuela (X The Tradesman)

Namun, tidak semua respons bernada perayaan. Sejumlah pendukung Maduro justru melontarkan teriakan penolakan terhadap apa yang mereka anggap sebagai bentuk intervensi Amerika Serikat.

Margarett, warga California yang kini tinggal di Mexico City, menilai Trump tengah mengalihkan perhatian dari persoalan dalam negeri dengan membunuh warga tak bersalah.

“Saya malu dengan apa yang dilakukan negara saya. Venezuela bukan musuh kami—Trumplah musuh kami,” ujarnya.

Optimisme Hati-hati dan Ketidakpastian Masa Depan

Trump menegaskan AS akan menjalankan pemerintahan Venezuela untuk sementara hingga proses transisi berlangsung. Langkah menyerang Venezuela, menangkap presidennya, dan menyatakan akan mengelola negara tersebut dinilai sebagai penyimpangan tajam dari sikap Trump sebelumnya yang kerap mengkritik keterlibatan berlebihan AS dalam urusan luar negeri.

Pakar hukum internasional Mary Ellen O’Connell dari University of Notre Dame menilai rencana Trump bermasalah karena hukum internasional tidak mendukung model dakwaan, penangkapan, dan penuntutan semacam itu.

Baca Juga: PM Malaysia: Penangkapan Maduro oleh AS Langgar Hukum Internasional

“Prinsip paling mendasar dari supremasi hukum adalah menyediakan alternatif selain kekerasan dan main hakim sendiri,” katanya.

Seiring meredanya euforia awal, muncul pula keraguan mengenai masa depan Venezuela. Andres Losada, warga Venezuela yang telah tinggal tiga tahun di Spanyol, mengatakan meski kondisi di Caracas sangat berat, ia masih melihat harapan menuju kebebasan. Namun, Maria Fernanda Monsilva, peserta aksi di Quito, menilai Venezuela belum sepenuhnya bebas dan berharap kandidat utama oposisi dalam pemilu presiden 2024 dapat mengambil alih kekuasaan.

Pemimpin Dunia Terbelah

Maduro ditangkap oleh pasukan AS dalam operasi malam hari di Venezuela. <b>(Istimewa)</b> Maduro ditangkap oleh pasukan AS dalam operasi malam hari di Venezuela. (Istimewa)

Kecaman paling keras datang dari Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang menyebut tindakan AS sebagai agresi terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin, serta menyerukan digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Presiden Brasil Lula da Silva menyampaikan pandangan serupa dengan menilai pengeboman dan penangkapan presiden Venezuela telah melampaui “garis yang tidak dapat diterima”.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyatakan negaranya tidak akan mengakui intervensi AS di Venezuela yang dinilainya melanggar hukum internasional.

Berdasarkan data Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB, sejak 2014 sekitar 7,7 juta warga Venezuela, atau sekitar 20 persen dari total populasi, telah meninggalkan negaranya akibat kesulitan ekonomi dan demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Presiden Peru José Jeri menyatakan pemerintahnya akan memfasilitasi pemulangan warga Venezuela tanpa mempersoalkan status imigrasi. Sementara di Ekuador, Presiden Daniel Noboa menyebut para penentang Maduro dan mendiang Hugo Chávez sebagai pihak yang akan menyaksikan runtuhnya “struktur kriminal narco-Chavista” di kawasan tersebut.

HIGHLIGHT

x|close