Negara-negara Amerika Latin Terbelah Sikapi Tindakan AS ke Venezuela

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Jan 2026, 08:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Trump mengatakan dirinya berencana mengizinkan raksasa-raksasa minyak AS untuk mengambil alih dan berinvestasi dalam infrastruktur energi Venezuela dan Trump mengatakan dirinya berencana mengizinkan raksasa-raksasa minyak AS untuk mengambil alih dan berinvestasi dalam infrastruktur energi Venezuela dan (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela, termasuk aksi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, memunculkan beragam respons politik dari negara-negara di kawasan Amerika Latin. Sejumlah sekutu Washington menyambut positif penahanan Maduro, sementara negara lainnya justru mengecam keras operasi militer yang diperintahkan Presiden AS Donald Trump.

Dilansir dari NBC News, Senin, 5 Januari 2026, tanggapan dari berbagai negara di Amerika Latin atas serangan AS di Venezuela mencerminkan adanya perpecahan politik yang cukup tajam di kawasan tersebut.

Dilaporkan Associated Press, Kolombia, Brasil, Meksiko, Uruguay, dan Kuba secara terbuka mengutuk serangan itu. Negara-negara tersebut juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mencari solusi damai serta mengambil langkah-langkah konkret guna meredakan ketegangan.

Baca Juga: Wapres Venezuela Tegaskan Siap Pertahankan Negara dan Sumber Daya Alam Usai Serangan AS

Sebaliknya, Argentina, Paraguay, dan Ekuador menyatakan dukungan terhadap kabar penangkapan Maduro. Panama menyampaikan dukungan kepada oposisi politik Venezuela, yang secara luas diyakini memenangkan pemilihan presiden 2024 berdasarkan bukti-bukti yang dinilai kredibel. Sementara itu, Guatemala mendorong peningkatan dialog antar pihak terkait.

Di tengah polemik tersebut, Presiden El Salvador Nayib Bukele, yang dikenal sebagai sekutu Trump dan kerap melontarkan kritik terhadap Maduro, turut menanggapi pernyataan Senator Demokrat AS Chris Van Hollen yang mengkritik langkah pemerintahan Trump. Bukele menilai kritik tersebut sebagai pembelaan terhadap pelaku kejahatan.

Kerumunan merayakan di sebuah stasiun bensin di Doral, Florida, Sabtu, 3 Januari 2025, setelah penangkapan presiden Venezuela. CNN <b>(CNN)</b> Kerumunan merayakan di sebuah stasiun bensin di Doral, Florida, Sabtu, 3 Januari 2025, setelah penangkapan presiden Venezuela. CNN (CNN)

"Jadi Anda hanya ingin membela para preman," katanya melalui akun X resminya sambil mengunggah ulang cuitan Van Hollen.

Serangan besar-besaran AS ke sejumlah lokasi di Venezuela yang diikuti dengan penangkapan Nicolas Maduro disebut sebagai puncak dari tekanan selama berbulan-bulan pemerintahan Trump terhadap Caracas. Operasi ini pun memicu kecaman dari sejumlah pemimpin internasional.

Maduro ditangkap pada Sabtu, 3 Januari 2026 dini hari, yang diawali dengan serangan oleh pasukan AS. Pemerintah Amerika Serikat menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah penangkapan tersebut, Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, dibawa ke Amerika Serikat.

Baca Juga: Venezuela Nilai Serangan AS Ancam Stabilitas Amerika Latin

Trump sebelumnya mendesak Maduro untuk melepaskan kekuasaan dan menuduhnya memiliki keterkaitan dengan kartel narkoba. Ia menuding Maduro dan jaringan narkotika bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat penggunaan narkoba ilegal.

Sejak September 2025, pasukan Amerika Serikat dilaporkan telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam sedikitnya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela di wilayah Karibia dan Pasifik. Sejumlah pakar hukum menilai tindakan AS tersebut berpotensi melanggar hukum domestik Amerika Serikat maupun hukum internasional.

HIGHLIGHT

x|close