Harga BBM di Badan Usaha Swasta Alami Penyesuaian, Ini Respons DPR

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Mei 2026, 19:50
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
ilustrasi Pom bensin BBM Pertamax ilustrasi Pom bensin BBM Pertamax (BENO NTV)

Ntvnews.id, Jakarta - Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno mengatakan kenaikan harga nonsubsidi merupakan hal yang wajar mengingat harga minyak dunia saat ini masih terus meningkat. Menurut Eddy, di luar BBM bersubsidi yakni Pertalite dan Solar, harga BBM lainnya mengikuti harga pasar sehingga bila tidak dinaikkan akan menjadi beban bagi pemerintah dan juga Pertamina maupun badan swasta lainnya.

“BBM nonsubsidi harus menyesuaikan dengan kondisi harga di pasaran. Jadi tidak heran kalau ada kenaikan dari BBM nonsubsidi. Kalau dibiarkan dengan harga lama, tentu akan menjadi beban bagi Pertamina dan juga APBN. Bagi badan usaha swasta, saya rasa mungkin juga sama,” kata Eddy saat dikonfirmasi, Sabtu (2/5/2026).

Seperti diketahui, pertengahan April 2026, Pertamina sudah menaikkan harga Pertamax Turbo dan Pertamina Dex. Penyesuaian harga kembali dilakukan oleh sejumlah badan usaha swasta seperti BP Indonesia dan VIVO pada awal Mei 2026 ini. BP menetapkan harga BP Ultimate Diesel (CN 51) seharga Rp30.890 per liter, naik sebesar Rp5.430. Harga yang sama juga ditetapkan VIVO untuk Primus Plus (CN 51) sebesar Rp30.890 per liter, juga naik sebesar Rp5.430.

Pekan ini, Pertamina baru melakukan penyesuaian harga untuk BBM nonsubsidi Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Sementara Pertamax dan Pertamax Green masih tetap, demikian halnya dengan BBM subsidi Pertalite dan Bio Solar, dengan rincian sebagai berikut:
Pertalite (RON 90): Rp10.000 per liter – tetap, Bio Solar (CN 48): Rp6.800 per liter – tetap
Pertamax (RON 92): Rp12.300 per liter – tetap, Pertamax Green (RON 95): Rp12.900 per liter – tetap, Pertamax Turbo (RON 98): menjadi Rp19.900 per liter – naik Rp500 dibandingkan harga 18 April 2026, Dexlite (CN 51): menjadi Rp26.000 per liter – naik Rp2.400 dibandingkan harga 18 April 2026, Pertamina Dex (CN 53): menjadi Rp27.900 per liter – naik Rp4.000 dibandingkan harga 18 April 2026
*) penyesuaian harga untuk wilayah DKI Jakarta

Eddy menyebut untuk BBM nonsubsidi yang harganya mengikuti mekanisme pasar, kenaikan harga bukan suatu hal yang mengagetkan. Ia mengatakan pada waktu tertentu, harga tersebut akan disesuaikan bila harga minyak global sedang turun.

Wakil Ketua MPR RI itu juga mendorong pemerintah untuk terus mengambil langkah strategis agar ketahanan energi nasional lebih kuat terhadap ancaman krisis. Eddy berharap pemerintah dan Pertamina mampu mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi impor secara signifikan sehingga ketika ada krisis energi global, ketahanan energi nasional menjadi lebih kuat dan mandiri.

“Bagaimanapun, dengan ketergantungan yang masih tinggi terhadap energi fosil, khususnya yang dipengaruhi oleh pasar global, maka setiap gejolak harga minyak dunia akan selalu berpotensi menekan perekonomian kita,” kata Eddy.

Eddy menambahkan pengembangan energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, angin, dan bioenergi berbasis sumber daya dalam negeri perlu terus dipercepat. Menurut dia, langkah ini sangat penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor dan menjaga perekonomian dari dampak fluktuasi global. Selain mengurangi ketergantungan impor dan dampak krisis global, Eddy menilai percepatan transisi energi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bersih.

“Saya yakin dan percaya urgensi mewujudkan ketahanan energi sama pentingnya dengan upaya mewujudkan ketahanan nasional. Transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” kata Eddy.

x|close