OJK Sebut Pelemahan IHSG Pascarebalancing MSCI Masih Wajar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Mei 2026, 14:32
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (13/5/2026) (ANTARA/Bayu Saputra) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (13/5/2026) (ANTARA/Bayu Saputra) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pengumuman rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih berada dalam kondisi normal dan belum menunjukkan kepanikan di kalangan investor.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan aktivitas perdagangan saham pada Rabu, 13 Mei 2026, tetap berlangsung stabil. Menurutnya, frekuensi, volume, serta nilai transaksi masih sejalan dengan kondisi pasar pada hari-hari sebelumnya.

“Tadi frekuensi dan volume, serta nilai transaksi (efek) juga cukup baik. Secara rata-rata tidak ada perbedaan, normal dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ini menunjukkan tidak adanya panic selling atau reaksi satu arah berupa aksi menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian,” kata Hasan dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu.

IHSG pada perdagangan Rabu pagi tercatat melemah 94,96 poin atau sekitar 1,38 persen ke level 6.763,94. Hingga pukul 11.55 WIB, indeks masih bergerak di zona merah pada posisi 6.738,31. Hasan menjelaskan pelemahan tersebut merupakan dampak jangka pendek dari reformasi integritas dan transparansi pasar modal yang tengah dijalankan OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Self Regulatory Organization (SRO).

Menurut Hasan, reformasi itu membuat struktur kepemilikan saham menjadi lebih terbuka sehingga lembaga penyedia indeks global seperti MSCI dapat melakukan penghitungan ulang secara lebih akurat. Ia mengakui kebijakan tersebut memunculkan tekanan sementara di pasar, namun diyakini akan membawa manfaat jangka panjang.

“Ini tentu setidaknya memiliki implikasi jangka pendek berupa penurunan dan reaksi penyesuaian harga-harga saham yang terdampak sehingga istilah short term pain bahwa kita akan harus menghadapi tingkat penurunan di jangka pendek," ujarnya.

"Ini tentu menjadi konsekuensi yang sudah kita perhitungkan dan perkirakan sejak awal,” kata Hasan menambahkan.

Baca Juga: IHSG Selasa Dibuka Menguat ke Level 6.946 Meski Ketidakpastian Global Meningkat

Di tengah koreksi pasar, OJK menilai valuasi saham Indonesia kini justru semakin menarik bagi investor. Hasan menyebut price to earnings ratio (PER) IHSG saat ini berada di level yang lebih rendah dibanding ketika pasar mencapai puncaknya pada pertengahan Januari 2026. Bahkan, rata-rata PER saham Indonesia dinilai lebih murah dibandingkan bursa saham di kawasan regional yang berada di kisaran 16 kali.

“Jadi ini juga menunjukkan sebetulnya kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus melakukan perbaikan kinerja ke depannya,” kata Hasan.

Sementara itu, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan keputusan MSCI justru membantu mengurangi ketidakpastian di pasar. Selama ini, pelaku pasar menunggu kepastian hasil evaluasi MSCI di tengah berbagai tekanan global seperti geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan pergerakan mata uang.

“Dan salah satu unsur ketidakpastian itu adalah pasar menunggu keputusan dari MSCI. Oleh karena itu tentu kami melihat dengan apa yang disampaikan oleh MSCI hari ini mengurangi satu unsur ketidakpastian," ujar Jeffrey.

Baca Juga: MSCI Depak Enam Saham RI, IHSG Anjlok 1,38 Persen ke 6.763

Dalam MSCI May 2026 Index Review, enam saham Indonesia resmi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Sementara itu, MSCI memasukkan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke dalam MSCI Global Small Cap Index. Di sisi lain, sejumlah saham lain juga dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index, di antaranya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

(Sumber: Antara)

 

x|close