Kemenkeu Jepang Gelontorkan Rp1.300 Triliun demi Tahan Pelemahan Yen

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Mei 2026, 15:08
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Arsip - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (ANTARA/Anadolu/py) Arsip - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Keuangan Jepang mengambil langkah besar untuk menahan tekanan terhadap mata uang yen yang terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Dalam kurun sekitar satu bulan terakhir, pemerintah Jepang tercatat menggelontorkan dana mencapai 11,7 triliun yen atau setara sekitar Rp1.300 triliun guna menopang nilai tukar mata uang negaranya.

Intervensi tersebut dilakukan oleh Bank Sentral Jepang atas instruksi langsung dari Kementerian Keuangan Jepang. Langkah ini diambil untuk meredam dampak ekonomi yang berpotensi muncul akibat gejolak tajam di pasar valuta asing.

Berdasarkan data resmi yang dirilis Kementerian Keuangan Jepang, aksi intervensi berlangsung pada periode 28 April hingga 27 Mei 2026. Namun, otoritas setempat tidak mengungkap secara rinci kapan tepatnya transaksi dilakukan di pasar.

Media internasional melaporkan bahwa intervensi diduga mulai dilakukan sejak 30 April lalu, ketika yen sempat terpuruk mendekati level 160 per dollar AS. Posisi tersebut menjadi titik terlemah mata uang Jepang dalam hampir dua tahun terakhir dan memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap perekonomian domestik.

Baca Juga: Warga Teheran Dukung Pemerintah Lewat aksi Turun ke Jalan

Sebelumnya, sejumlah media Jepang sempat memberitakan bahwa pada 8 Mei, bank sentral telah menghabiskan sekitar 10 triliun yen untuk menopang kurs yen di tengah tekanan pasar yang terus berlangsung.

Usai intervensi dilakukan, nilai tukar yen sempat menunjukkan pemulihan dengan beberapa kali penguatan pada awal Mei 2026. Mata uang Jepang bahkan sempat bergerak ke kisaran 155 yen per dollar AS pada 6 Mei, memicu spekulasi pasar mengenai kemungkinan adanya langkah tambahan dari pemerintah Jepang.

Meski demikian, pada perdagangan Jumat (29/5/2026), yen kembali bergerak di level sekitar 159,2 per dollar AS. Kondisi ini memunculkan optimisme sekaligus pertanyaan mengenai sejauh mana efektivitas intervensi besar-besaran yang dilakukan pemerintah Jepang.

Tekanan terhadap yen disebut dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama, di samping selisih suku bunga yang cukup lebar antara AS dan Jepang yang membuat dollar AS lebih menarik bagi investor.

Bukan kali ini saja Jepang turun tangan menjaga mata uangnya. Intervensi terakhir tercatat dilakukan pada Juli 2024 saat yen mendekati level 162 per dollar AS. Kala itu, pemerintah Jepang menghabiskan sekitar 5,5 triliun yen atau setara Rp615 triliun untuk menahan pelemahan yang lebih dalam.

x|close