Ntvnews.id, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong inovasi di bidang pengelolaan sampah dengan mengembangkan teknologi pirolisis yang mampu mengonversi limbah plastik menjadi bahan bakar bernilai ekonomi.
Teknologi yang diberi nama Liquid Fuel from Plastic Waste with Advanced Pyrolysis System for Industrial Scale (LAHSADIMIN) tersebut dirancang untuk mengolah limbah plastik melalui sistem operasi berkelanjutan multitahap, sehingga proses pengolahan dapat dilakukan secara lebih efisien dibandingkan teknologi sebelumnya.
Peneliti BRIN, Agus Kismanto, menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama teknologi LAHSADIMIN adalah kemampuannya menerima limbah plastik secara langsung ke dalam reaktor tanpa memerlukan proses pemilahan terlebih dahulu.
Menurut Agus, pendekatan tersebut dapat memangkas waktu dan biaya pengolahan, sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah plastik yang selama ini menjadi tantangan di berbagai daerah.
Baca Juga: Bersama Jumhur, Prabowo Tinjau Pengelolaan Sampah di Banyumas
Saat ini, BRIN tengah melakukan pengembangan lanjutan terhadap teknologi tersebut guna meningkatkan kapasitas produksinya. Jika pada generasi pertama sistem hanya mampu mengolah sekitar 400 kilogram limbah plastik per hari, versi terbaru ditargetkan mampu menangani hingga lima ton limbah plastik setiap hari.
Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan pengolahan sampah dalam skala yang lebih besar, terutama di kawasan perkotaan yang menghasilkan volume limbah plastik tinggi.
Selain menghasilkan bahan bakar alternatif, teknologi ini juga diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi dari limbah plastik yang selama ini banyak berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari lingkungan.
Baca Juga: Tinjau TPST BLE, Prabowo: Pengelolaan Sampah Sekarang Jadi Prioritas Nasional
BRIN menilai pengembangan teknologi pirolisis seperti LAHSADIMIN dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional yang lebih berkelanjutan, sekaligus mendukung upaya pengurangan pencemaran akibat sampah plastik.
Dengan kapasitas yang lebih besar dan proses yang lebih efisien, teknologi tersebut berpotensi diterapkan secara lebih luas di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari pengembangan ekonomi sirkular dan pemanfaatan limbah menjadi sumber energi yang bernilai guna.
(Sumber: Antara)
Pekerja menyortir botol plastik bekas di Bank Sampah Induk Cimahi (Samici), Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (17/4/2026). ANTARA FOTO/Abdan Syakura/tom (Antara)