Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus mengalami penguatan hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Google Finance, dolar AS sempat menyentuh level Rp18.022 per dolar AS per pukul 12.00 AM UTC atau 07.00 WIB, Kamis 4 Juni 2026.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama setelah mata uang AS itu turun ke level Rp17.979 per dolar AS pada pukul 12.40 AM UTC atau 07.40 WIB.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai perlemahan rupiah belakangan terakhir dipengaruhi sentimen dan berbagai isu yang beredar di pasar.
Baca juga: Rupiah Terus Merosot ke Rp17.900 per Dolar AS, Purbaya Tepis Isu Fiskal Berantakan
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa urusan stabilisasi nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI).
"Kalau masalah nilai tukar Bank Sentral adalah ahlinya. Kita serahkan ke Bank Sentral," ucap Purbaya, Rabu 3 Juli 2026.
Lebih lanjut, ia menyinggung perlemahan Rupiah dipengaruhi isu yang menyebut dirinya meminta perbankan melakukan stress test terhadap skenario rupiah melemah hingga di atas Rp18.000 per dolar AS.
"Kalau kita lihat kan tiba-tiba aja penguatannya, pelemahannya 1-2 hari ini kan. Karena ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar. Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah isu seperti itu," ungkap Purbaya.
Menurut Purbaya, berbagai isu tersebut memicu sentimen negatif terhadap rupiah. Namun pemerintah tetap fokus menjaga fundamental ekonomi nasional agar tetap kuat dan mampu menopang stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang
"Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif. Tapi kalau kita lihat, kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi aja, supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat. Karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya," lanjutnya.
Baca juga: Rupiah Tertekan ke Level Rp17.900 per Dolar AS, BI Perkuat Langkah Stabilisasi
Dalam kesempatan tersebut, Bendahara Negara juga membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah disebabkan kondisi fiskal pemerintah yang memburuk.
"Anda pasti menuduh kebijakan fiskal kan, banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Nanti ada update fiskal bulanan itu, fiskal APBN kita. Itu bulan Mei membaik dibanding bulan April. Kalau saya kasih bocoran itu defisitnya mau 0,7 dalam 5 bulan," bebernya.
"Jadi kalau ada isu oleh pemerintah, kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan nggak begitu, kita makin bagus," tandasnya.
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww) (Antara)