Ntvnews.id, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan kondisi fundamental pasar modal nasional masih berada dalam posisi yang kuat meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir.
Pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, IHSG tercatat ditutup turun 4,11 persen atau melemah 254,36 poin dari posisi pembukaan 6.207,10 menjadi 5.941,07. Tekanan berlanjut pada sesi pertama perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 dengan penurunan mencapai 3,48 persen. Namun hingga penutupan perdagangan, pelemahan berhasil ditekan sehingga IHSG berakhir turun 1,70 persen.
Menanggapi kondisi tersebut, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa kondisi pasar modal Indonesia masih ditopang oleh kinerja emiten yang positif.
“Fundamental pasar kita pada saat ini dalam kondisi yang baik,” kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan laporan keuangan emiten hingga akhir 2025, seluruh perusahaan tercatat berhasil mencatatkan pertumbuhan laba lebih dari 21 persen. Sementara itu, pada kuartal I 2026, khususnya untuk emiten yang tergabung dalam indeks LQ45, pertumbuhan laba bersih mencapai 29,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain pertumbuhan laba, Jeffrey mengungkapkan sekitar 80 persen perusahaan tercatat membukukan laba bersih pada kuartal pertama 2026. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya 63 persen perusahaan tercatat yang mencatatkan laba, sedangkan sepanjang 2021 hingga 2025 angkanya berada di kisaran 73–76 persen.
“Itu tentu menunjukkan bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan tercatat kita saat ini dalam kondisi baik. Tentu ini dapat dijadikan landasan untuk mengambil keputusan bagi para investor,” ujar Jeffrey.
Baca Juga: IHSG Ambles 4 Persen, Terperosok ke Level 5.694
Terkait isu kepercayaan investor yang muncul seiring koreksi IHSG, Jeffrey menegaskan berbagai langkah reformasi yang dilakukan BEI bertujuan memperkuat transparansi dan kredibilitas pasar modal Indonesia.
“Dengan kita meningkatkan transparansi, kita meningkatkan granularitas data, kita memberikan informasi terkait high shareholding concentration, itu seluruhnya adalah upaya kita untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor kepada pasar kita,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan sejumlah kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya masih tetap berlaku, di antaranya kebijakan pembelian kembali saham (buyback) tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) serta penundaan implementasi short selling.
Baca Juga: Purbaya Optimistis Meski IHSG Ambles 33 Persen Sepanjang 2026: Ekonomi Kita Bagus
Pada kesempatan yang sama, Jeffrey kembali mengingatkan para investor agar tetap mengedepankan pertimbangan rasional dalam mengambil keputusan investasi. Menurutnya, analisis fundamental dan kesesuaian dengan profil risiko masing-masing investor harus menjadi dasar utama dalam berinvestasi.
“Kami tentu tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada investor untuk dapat mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan fundamental, dan juga berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing investor,” kata Jeffrey.
(Sumber: Antara)
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik memberi keterangan pers di BEI, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) (Antara)